ESAI FILSAFAT DAN ILMU LOGIKA- “Ilmu yang Diperoleh Melalui Belajar di Fakultas Psikologi Serta Cara Mempelajarinya”

Dikerjakan Untuk Memenuhi UTS Mata Kuliah Filsafat dan Ilmu Logika

KELAS A

Yang dipelajari dalam Ilmu Psikologi

 

            Psikologi adalah sebuah ilmu yang mempelajari perilaku dan proses mental. Psikologi sendiri berasal dari kata “pscyche” yaitu jiwa. Dan “logos” yaitu ilmu. Jadi psikologi adalah ilmu yang mempelajari kejiwaan. Hal-hal yang sudah saya peroleh selama menjadi mahasiswa Psikologi Universitas Airlangga diantaranya sebagai berikut.

  1. Proses Perkembangan Fisik dan Mental, Tindakan dan Perilaku Individu, Kelompok, Maupun Masyarakat

            Proses perkembangan mental dalam psikologi, khususnya dalam Psikologi Perkembangan fisik dan mental. Misalnya perkembangan bayi yang dapat kita amati melalui pertumbuhan fisik dan perkembangan mental secara bertahap melalui afeksi dan proses pembelajaran dari orang tua. Saya mendapatkan materi perkembangan tahap psikoseksual (Oral, Anal, Falik, Laten)

   Dalam ruang lingkup psikologi, Psikologi Perkembangan merupakan psikologi yang mempelajari kekhususan dari pada pertumbuhan, perkembangan, serta tingkah laku individu. Dengan mempelajari psikologi perkembangan, saya  akan mengetahui fakta-fakta dan prinsip-prinsip mengenai perkembangan mental dan  tingkah laku manusia. Untuk memahami diri kita sendiri, dengan mempelajari psikologi perkembangan, banyak orang akan mengetahui kehidupan jiwanya sendiri, baik segi pengenalan, perasaan, kehendak, maupun tingkah laku lainnya. Dengan mengetahui jiwanya dan memahami diri kita itu maka orang dapat menilai diri kita sendiri.  Pengenalan dan pemahaman terhadap kehidupan jiwa sendiri merupakan bahan yang sangat penting untuk dapat memahami kehidupan jiwa orang lain.  Dengan bekal pengetahuan psikologi juga dapat dipakai sebagai bahan untuk menilai tingkah laku normal, sehingga kita dapat mengetahui apakah tingkah laku seseorang itu sesuai tidak dengan tingkat kewajarannya, termasuk tingkat kenormalan tingkah laku kita sendiri.

  1. Proses Interaksi Dalam Kemasyarakatan

            Tidak dapat dipungkiri, manusia adalah makhluk sosial yang tidak akan mampu hidup sendiri. Manusia membutuhkan orang lain untuk saling memenuhi kebutuhan mereka. Oleh karena itu, manusia selalu melakukan interaksi. Selama kurang lebih 2 bulan saya menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, saya mendapatkan mata kuliah Psikologi Umum dan mata kuliah Antropologi. Dalam Psikologi Umum, saya mendapatkan berbagaia macam pendekatan atau penjurusan dalam Psikologi, diantaranya Psikologi Klinis, Psikologi Pendidikan, Psikologi Perkembangan, Psikologi Industri Organisasi, dan Psikologi Sosial.

            Dalam materi psikologi klinis, saya mendapatkan berbagai macam ilmu bagaimana menangani orang-orang yang memiliki abnormalitas(perilaku tidak normal). Perilaku abnormal ditentukan dengan mempertimbangkan konteks sosial dimana perilaku tersebut terjadi. Jika perilaku sesuai dengan norma masyarakat, berarti normal. Sebaliknya jika bertentangan dengan norma yang berlaku, berarti abnormal. Kriteria ini  mengakibatkan definisi abnormal bersifat relatif tergantung pada norma masyarakat dan budaya pada saat itu. Misalnya di Amerika pada tahun 1970-an, homoseksual merupakan perilaku abnormal, tapi sekarang homoseksual tidak lagi dianggap abnormal. Contoh lain adalah, penggunaan narkoba bagi saya dan masyarakat desa Randuagung, Gresik (tempat saya tinggal) adalah sebuah abnormalitas. Penggunaan narkoba dapat memunculkan kenikmatan namun hanya sesaat. Selebihnya, hanya penderitaan lahir batin dan perpendekan umur yang pengguna peroleh. Namun, bagi mereka para pengguna, atau bagi masyarakat lain, belum tentu dikatakan tidak normal. Bisa jadi para pengguna itu menganggap sebuah kenormalan, karena pada saat itu merasakan kenikmatan. Bisa jadi masyarakat kota menganggap memakai narkoba adalah sebuah kenormalan karena begitu banyaknya pengguna narkoba saat  ini dan begitu bebasnya transaksi narkoba pada kota yang mereka tempati. Dari sedikit penjelasan saya di atas menunjukkan bahwa perilaku abnormal sulit untuk didefinisikan. Tidak ada satupun kriteria yang secara sempurna dapat membedakan abnormal dari perilaku normal. Tapi sekurang-kurangnya saya  berusaha untuk dapat menentukan definisi perilaku abnormal, yaitu dengan  adanya kriteria pertimbangan sosial menjelaskan bahwa abnormalitas adalah sesuatu yang bersifat relatif dan dipengaruhi oleh budaya serta waktu.

Kemudian, materi interaksi manusia bisa saya peroleh dalam Psikologi pendidikan. Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar (Whiterington, 1982:10). Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar. Karena konsentrasinya pada persoalan belajar, yakni persoalan-persoalan yang senantiasa melekat pada subjek didik, maka konsumen utama psikologi pendidikan ini pada umumnya adalah pada pendidik. Mereka memang dituntut untuk menguasai bidang ilmu ini agar mereka, dalam menjalankan fungsinya, dapat menciptakan kondisi-kondisi yang memiliki daya dorong yang besar terhadap berlangsungnya tindakan-tindakan belajar secara efektif. Untuk menjalankan fungsi-fungsi pembelajaran yang kondusif dan penerimaan materi yang optimal, tentu antara pendidik dengan yang terdidik harus memiliki interaksi yang baik, sehingga proses dan penyerapan materi dapat optimal. Di psikologi pendidikan inilah, saya mendapatkan bagaimana cara-cara yang tepat dalam membina dan mendidik anak sesuai dengan karakter dan minat anak yang bermacam-macam.

            Dalam Psikologi Industri dan Organisasi, saya mendpatkan materi yang berkaitan dengan perindustrian,dimana manusia harus bisa berinteraksi baik dengan manusia-manusia yang lain untuk mencapai suatu program atau proyek industri tertentu, hubungan yang baik antara atasan dengan karyawan, dan menjadi pribadi yang baik dalam berorganisasi.

            Dalam Psikologi perkembangan, saya mempelajari perkembangan anak, dan pengaruh pola asuh orang tua terhadap perkembangan anak. Dari sinilah saya semakin menyadari mengapa ada anak yang tumbuh dengan sikap dan perilaku yang baik, namun tidak sedikit yang mengalami kenakalan remaja akibat kondisi brokenhome (gangguan dalam kehidupan keluarga)

  1. Keterkaitan antara jiwa dengan raga

            Psikologi memberikan ilmu kejiwaan pada saya. Manusia sendiri terdiri atas jiwa dan raga. Jiwa dan raga ini terpisah satu sama lain, namun jiwa dan raga bekerja sama dalam mengendalikan kehidupan suatu individu. Jiwa itu merasakan. Sedangkan raga yang bertindak. Tempat rasa sakit terdapat pada suatu bagian raga kita dan dapat meliputi suatu lingkungan yang lebih besar atau lebih kecil. Tetapi bagi seorang ahli jiwa, sesungguhnya rasa sakit itu tidak terdapat pada tempat yang kita rasakan, melainkan pada jiwa kita. Jadi yang dimaksud ahli jiwa itu adalah rangsangan tadi melalui susunan syaraf kemudian dilanjutkan ke jiwa sebagai penerima rangsang terakhir yang membuahkan rasa sakit. Dapat dikatakan jiwa kita seakan-akan mengembang ke bagian raga kita yang terasa sakit, rasa sakit itu terasa karena terdapat jiwa di situ. Tafsiran inilah yang dimaksud oleh Leighton jika ia mengatakan jiwa manusia itu dapat mengembang serta merembesi bagian-bagian yang lain dari raga manusia. Jadi, jiwa manusia itu bersifat trans-spasial , dalam arti jiwa merupakan pemersatu yang sadar serta pusat ketegangan pengalaman ragawi. Sebagai pemersatu pengalaman-pengalaman ragawi, jiwa tersebut bertindak melalui ruang, namun sekaligus juga menembus ruang serta mempersatukan pengalaman-pengalaman ragawi ke dalam suatu kesatuan yang bersifat sistematis.

            Di samping itu terdapat kegiatan jiwa yang bersifat khas, yaitu mengingat-ingat kembali. Melalui kegiatan inilah seseorang pada saat ini dapat mengendalikan hari depan memanfaatkan hal-hal yang terdapat di masa lampau. Secara demikian jiwa manusia dengan jalan mengadakan pilihan yang bersifat menyaring , mengadakan analisa, sintesa, serta mengingat-ingat kembali dapat membebaskan dirinya dari keadaan yang semata-mata ditentukan oleh benda-benda jasmaniah.

Cara Mempelajari Ilmu Psikologi

  1. Melalui pengamatan dan wawancara

Pengamatan ini bertujuan untuk mengamati kondisi fisik yang juga berkaitan dengan kejiwaan seseorang. Berdasarkan pengamatan yang saya dapati selama 19 tahun hidup saya, ketika seseorang mengalami suatu kebahagiaan, orang tersebut akan memunculkan ekspresi senang dan perilaku yang semangat. Sebaliknya, ketika orang tersebut sedang mengalami penderitaan, maka ekspresi orang akan menampakkan kesedihan. Begitu pula yang saya alami. Namun, pada beberapa kondisi tertentu dimana saya (begitu juga dengan orang lain) berusaha untuk menutupi kesedihan dengan berusaha tetap tersenyum. Mungkin bagi orang-orang yang hanya melihat, mereka tidak menangkap kesedihan yang dialami orang itu. Namun, jika benar-benar kita amati, ada satu indera yang tidak bisa menipu kondisi perasaan seseorang, yaitu mata. Ekspresi mata tidak bisa menutupi kebahagiaan dan kesedihan yang kita alami.

            Dalam Ilmu Psikologi, saya juga mendapatkan teori empirisme dalam melakukan pengamatan. Menurut teori empirisme, kita dapat mendapatkan pengetahuan melaui pengalaman dan pengamatan secara langsung terhadap suatu kejadian. Pengetahuan diperoleh dengan perantaraan indera. John Locke , Bapak Empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan akalnya merupakan sejenis buku catatan yang kosong(tabularasa). Kemudian, melaui pengalaman dan proses penginderaan terhadap perilaku yang dilakukan orang-orang di sekelilingnya, menyebabkan bayi itu memperoleh pengetahuan.

            Dalam Psikologi, untuk mendukung pengamatan seseorang, sebagai observer, kita bisa melakukan wawancara. Wawancara bisa terbagi menjadi dua jenis, wawancara secara formal, maupun non formal. Wawancara formal contohnya seperti melakukan konsultasi sederhana, sedangkan wawancara non formal biasanya didahului oleh observer membuka topik pembicaraan yang berhubungan dengan permasalahan objek. Dengan proses wawancara, kita bisa mengamati ekspresi objek lebih lanjut dan juga mengetahui kondisi mental mereka. Dari sisi objek, mereka juga akan merasa lega karena bisa mencurahkan sebagian penderitaan yang selama ini mereka pendam seorang diri.

  1. Berpadu dengan Referensi

            Saya mempunyai pandangan bahwa membaca adalah poin penting untuk menambah wawasan manusia. Dalam memahami setiap materi apapun itu, termasuk psikologi, kita perlu membaca referensi yang mendukung ilmu yang sedang kita dapati agar tidak semata-mata common sense, melainkan sebuah pemikiran ideal dan seimbang.

            Dengan membaca, kita dapat mengetahui berbagai macam sejarah aliran psikologi, teori-teori dalam ilmu filsafat, pembelajaran motivasi dan interaksi dengan sesama manusia, dan juga berbagai macam pendekatan yang ada dalam ilmu psikologi. Saya tidak semata-mata percaya dan sekadar menghafal  teori demi teori yang saya terima dalam Ilmu Psikologi. Saya butuh proses untuk memikirkan dan memahami teori tersebut, dan bisa saja saya sepaham, atau malah menimbulkan pertanyaan-pertanyaan. Dari sinilah saya sadar, dengan membaca, timbullah pertanyaan yang berasal dari pemikiran kita, lalu menimbulkan jawaban dengan proses pencarian kebenaran.   Dengan begitu saya merasa saya memiliki dasar yang kuat untuk mendalami materi sekaligus mencoba untuk bertindak memotivasi orang lain.

  1. Pemikiran dan Pemahaman

            Dalam pembelajaran psikologi, terdapat proses perkembangan mental, yang diiringi dengan kebahagiaan dan kesedihan, yang diikuti dengan anugerah dan cobaan. Kemudian, muncullah sebuah pemikiran dalam diri saya melalui pembelajaran psikologi ini, bahwa hidup yang diberikan Allah ini selalu seimbang dan pasti bisa dilewati. Dan ternyata juga sesuai dengan refrensi yang kita miliki dalam Al Qur’an Surat Al Insyirah: 6  “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”

            Dalam psikologi, saya dituntut untuk berpikir pada sebuah permasalahan, dan juga memahami kehidupan. Jadi, pada dasarnya menjadi mahasiswa psikologi membimbing saya untuk menyeimbangkan antara pemikiran yang bebas dan luas dengan referensi yang mendukung. Tidak bisa kita menerima pendidikan hanya dengan sebuah pemikiran saja, atau hanya dengan membaca saja. Dengan hanya menggunakan pemikiran-pemikiran saja, saya akan merasa terperangkap dengan asumsi dan sebuah kebenaran yang tak pasti. Dengan hanya membaca saja, saya akan merasa terpaku dan hanya mematuhi autran-aturan dan teori yang ada. Ini membuat pemikiran saya menjadi sempit dan tidak berkembang. Oleh karena itu, kedua-duanya harus berjalan secara seimbang. Demikian sedikit ulasan saya mengenai apa yang dipelajari dalam ilmu psikologi dan bagaimana saya mempelajarinya. Semoga Bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA

Adib, Moch. Santoso, Listyono. Sudjana, I Nyoman Naya. Setiawan, Budi. 2009. Pengantar Ilmu dan Logika Sebuah Pengantar. Surabaya.

Siauw, Felix. 2010. Beyond the Inspiration. Jakarta : Khilafah Press.

Katsoff, Louis O. 1992. Pengantar Filsafat. Yogyakarta :Tiara Wacana Yogya.

http://wawan-junaidi.blogspot.com/2010/02/peran-keluarga-dalam-membentuk.html

http://www.psychologymania.com/search/label/Psikologi%20Perkembangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s