Uncategorized

Hello, Hijabers ! :D

Assalamu’alaykum, ya Akhii ya Ukhtii🙂

Denger-denger nih ya, 14 Februari ini, hari Hijab Internasional !😀

Seperti foto yang terpampang di atas. Foto itu adalah stiker karya Jama’ah Nuruzzaman Universitas Airlangga🙂

Ohiya, saya baru tahu kalau ada hari ini🙂 #jujur, ndeso banget ya aku ya. Maaf yaa.

Sekalipun sedang belajar untuk berhijab, ternyata saya masih kurang info mengenai hari yang ‘satu’ ini🙂

tapi eh tapi, saya mau share sedikit nih soal hijab, saya bukan ahlinya, tapi daripada tulisan ini hanya dikumpulkan sebagai tugas essai mata kuliah Agama Islam, alangkah baiknya kalau saya share di sini🙂

semoga bermanfaat. Insya Allah (:

Sejarah terbentuknya Hijab

            Ummu Salamah menceritakan bahwa suatu ketika ia bersama Maimunah berada dalam sebuah majelis bersama Rasulullah SAW. Kemudian datanglah Abdullah Ibnu Ummi Maktum, salah seorang sahabat yang buta, dan Ia masuk ke majelis  Rasulullah, Rasulullah kemudian bersabda kepada Ummu Salamah dan Maimunah

“Berhijablah kalian berdua dari Abdullah Ibnu Ummi Maktum”

Mendengar sabda Rasulullah ini Maimunah berkata, “Bukankah dia buta, sehingga tidak bisa melihat kami ya Rasulullah?”

Rasulullah menjawab, “Apakah kalian berdua juga buta sehingga kalian tidak melihatnya?” (HR. Abu Dawud At Tirmidzi, An Nasa’i, dan Al Baihaqi)

Kepada Ibnu Ummi Maktum yang buta sekalipun, Rasulullah melarang dengan keras, apalagi memandang laki-laki yang sempurna fisiknya. Lirikan mata dan hati benar-benar mudah diambil alih kendalinya oleh syaitan yang berkedudukan di dalam keduanya.

Ada juga kisah lain, Sebelum perintah berhijab bagi wanita diturunkan, dikisahkan dalam Sahih Bukhari, tentang kebiasaan buang hajat orang-orang pada masa Rasulullah SAW. Air untuk berwudhu sangat sulit didapat, tak jarang mereka bertayamum ataupun mandi junub dengan debu. Pada masa itu tentu belum ada toilet bilas yang bisa bersih hanya dengan menekan sebuah tombol atau tuas.

Berhubung belum adanya toilet modern dan peradaban yang masih dibilang kuno, pada masa itu mereka menyediakan sebuah lahan atau tanah lapang khusus untuk buang hajat. Bersih-bersih bisa dilakukan dengan cara peper, cukup dengan tiga buah batu atau tiga helai daun kering.

Berhubung acara buang hajat dilakukan di tanah lapang terbuka, maka ada aturan bahwa wanita hanya boleh keluar untuk buang hajat pada malam hari. Saat langit gelap dan tidak banyak orang berkeliaran. Khalifah Umar sudah memberi ide pada Rasulullah untuk memerintahkan agar para wanita memakai hijab saat melakukan ritual tersebut. Tetapi Rasulullah mungkin punya pertimbangan sendiri sehingga ia tidak menanggapi ide Khalifah Umar tersebut.

            Sampai pada suatu saat, salah satu istri Rasulullah SAW yakni Saudah binti Zam’an yang keluar pada malam hari sekitar waktu Isya untuk buang hajat. Berhubung postur Saudah yang lebih tinggi dari pada wanita lain , bukan bermaksud mengintip tetapi membuat ia dengan mudahnya dikenali oleh Khalifah Umar pada saat sedang menjalankan ritual buang hajat tersebut. Berkatalah Khalifah Umar,

“Hai Saudah, sungguh mengenal aku pada postur tubuhmu”

Sejak saat itulah Allah mulai menurunkan perintah untuk berhijab bagi kaum wanita muslim yang bisa ditemukan dalam banyak surat dan ayat dalam Al-Qur’an. (Sumber : HR Bukhori dan Muslim)

Kini, generasi muslim dan muslimah memasuki peradaban baru, dimana manusia patut bersyukur menjadi muslim dan muslimah tanpa harus melalui peperangan dan pertumpahan darah. Sebagai remaja yang menuju pada kedewasaan, sungguh wajar bila kawula muda merasakan cinta pada sesama manusia. Namun, sayangnya banyak sekali remaja yang salah dalam mengekspresikan bentuk perasaaannya. Buktinya saja, sudah terdapat ribuan bahkan puluhan ribu kasus pergaulan bebas di negara kita yang mayoritas menganut agama Islam. Pergaulan bebas di kalangan remaja telah mencapai titik kekhawatiran yang cukup parah, terutama seks bebas. Mereka begitu mudah memasuki tempat-tempat khusus orang dewasa, apalagi malam minggu. Pelakunya bukan hanya kalangan SMA, bahkan sudah merambat di kalangan SMP. Bahkan di kalangan kampus Universitas Airlangga, masih banyak mahasiswa yang belum bisa menerapkan dan membudayakan hijab sebagai sikap dan perilaku sehari-hari.

Al quran mengajarkan kepada kita sebuah pengakuan yang tulus bahwa hawa nafsu yang diperturutkan dan tertipu syaitan selalu menarik insan ke alam hewani yang rendah. Dalam pengakuan jujur inilah jiwa seorang mukmin dipisahkan dari kesombongan. Bahwa hanya dengan rahmat Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang ia terbebas dari tarikan rendah dan nista itu.

            “Dan aku tidak berlepas diri dari (kesalahan) nafsuku. Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan, kecuali yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha  Pengampun lagi Maha Penyayang” (Yusuf 53)

            Allah menjadikan nafsu sebagai amanah yang dipercayakan agar muslim dan muslimah meletakkannya dalam ketaatan sebagaimana Ia gariskan. Fitrah inilah yang menjadi sarana lestarinya jenis manusia sebagai makhluk Allah yang diperintahkan untuk beribadah kepada-Nya semata dan memakmurkan bumiNya. Risalah Muhammad SAW datang untuk meluruskan salah persepsi antara dua kutub yang berlebihan. Antara kehidupan mengumbar nafsu dengan kehidupan membunuh nafsu. Dua-duanya bukan kemuliaan.

            Islam telah meletakkan kemuliaannya dalam semua hal termasuk pada timbangan kebenaran atas penunaian perintah Allah dan penyingkiran laranganNya dari kehidupan.

            “Dan janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk. (Q.S. Al-Isra’:32)

Banyak sekali kalangan jahiliyah menggunakan kata cinta untuk mewakili nafsu keji yang mereka selimutkan sepanjang proses pendahuluan sampai zina yang disebut sebagai pembuktian cinta. Zina, mungkin juga berupa pacaran yang oleh orang tua ‘modern’ dikatakan sebagai sesuatu yang wajar selama mengerti batas-batasnya. Namun, batas yang mereka maksud sebenarnya telah melanggar prinsip hijab yang sesungguhnya.

Telah terulis atas anak anak Adam nasibnya dari Zina. Akan bertemu dalam hidupnya, tidak bisa tidak. Maka kedua mata, zinanya adalah memandang. Kedua telinga, zinanya berupa menyimakdengarkan. Lisan, zinanya berkata. Tangan, zinanya meyentuh. Kaki, zinanya berjalan. Dan zinanya hati adalah ingin dan angan-angan. Maka akan dibenarkan hal ini oleh kemaluan, atau didustakannya.” (HR Muslim, dari Abu Hurairah)

           Hukum Hijab datang dari Allah SWT. Hijab pada mulanya adalah wahyu bukannya kebudayaan karena ia bukan ciptaan akal manusia. Tapi apabila kita hendak mengamalkan tuntutan perintah ini maka muslim dan muslimah menggunakan akal pikiran dan melaksanakannya dalam perbuatan dan sikap. Kemudian berfikir apa saja unsur dalam pergaulan yang bisa membawa kepada zina akan kita pikirkan, dan fisik kita segera mengelakkannya, seperti bergaul bebas antara lelaki dan perempuan, pandang-memandang dan pembukaan aurat, semuanya akan kita hindari. Dengan itu nanti akan lahirlah budaya perilaku dan sikap setelah dipikirkan dan dilaksanakan dalam bentuk sikap dan perbuatan hasil dari dorongan wahyu “janganlah kamu dekati zina.”

Sebagai salah satu remaja muslim,saya menyadari, untuk melesatrikan budaya hijab membutuhkan proses panjang dan bertahap. Penulis pun menyadari bahwa hijab yang dilakukan penulis juga belum sempurna. Namun, dalam essai ini saya mencoba berbagi tips dalam rangka berhijab sesuai syariat Islam.

  1. Menjaga pandangan

Mata adalah jendela hati dan kurir zina. Betapa banyak bencana akibat mata yang tidak terjaga. Betapa cerdas iblis menyediakan banyak alternatif untuk mengisi retina hati dengan pandangan memabukkan berupa cara berhias dan bertingkah laku jahiliyah. Oleh sebab itu, generasi muslim-muslimah harus menjaga pandangan dengan selalu mengingat Allah dalam kondisi apapun. Tidak dapat dipungkiri, penulis sadar, bahwa kita tidak bisa memaksakan keadaan agar menjadi sesuatu yang halal dilihat, namun mari kita mencoba untuk membenahi pribadi sendiri untuk menjaga pandangan dan menjaga diri agar tidak membuat orang lain berdosa melihat diri kita.

2. Menghindari Kebisingan syahwat

Telinga bisa menjadi gua yang nyaman bagi syaitan. Di sana terdapat genderang syahwat yang dengan mudah bisa ditabuh dan diperdengarkan. Lengkingan bisikan dasyat ini bisa meresonansi syaraf-syaraf syahwat.

“…dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan… (Qs An Nur :31)

Menurut Salim A. Fillah, 2006, Imajinasi kaum lelaki begitu tinggi. Ia bisa menelusuri dengan detail bayangan apa yang ia dengar. Tak hanya berkait dengan perhiasan yang berbunyi, tetapi suara wanita juga bisa menjadi frekuensi yang bisa menerbitkan gejolak hati.

3. Menjaga Indra Pembau

“Wanita mana saja yang memakai haruman kemudian keluar dan lewat di muka orang banyak agar mereka mendapati baunya, maka dia adalah pezina…” (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi)

Ilmu kesehatan masa kini pun jelas menyebutkan bahwa ada sebuah indra pemicu ketertarikan terhadap lawan jenis yang letaknya di hidung.

4. Menjaga untuk tidak bersentuhan terhadap lawan jenis

Kulit adalah tempat indera perasa. Jika tidak dijaga, banyak ras yang akan hinggap kemudian meninggalkan kesan di sana. Rasa yang bisa menerbangkan kesucian diri dan menanggalkan pakaian malu, hingga yang tersisa tak lebih baik daripada tusukan jarum besi menyala di kepala.

Sungguh , jika kepala salah seorang dari kalian dicerca dengan jarum besi menyala adalah masih lebih baik dari pada menyentuh perempuan yang tiada halal baginya.” (HR. Ath Thabrani dan Al Baihaqi)

Sungguh, kenangan persentuhan kulit dengan yang bukan mahramnya cukup sulit dilupakan. Hal itu terkadang akan terbawa dalam pikiran dan angan-angan kita yang menyebabkan diri ini lupa akan Allah SWT. Maka, sebagai muslim dan muslimah, penulis berharap agar kita dapat saling mengingatkan agar jarum besi menyala itu tidak akan pernah hadir dalam kehidupan kita, sejak detik ini, sampai nanti ketika kita divonis di pengadilan Allah yang Maha Tinggi.

5. Menjaga jarak

Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita bukan mahramnya, dan janganlah seorang wanita bepergian kecuali bersama mahramnya” (HR Al Bukhari dan Muslim)

Hadits ini telah memuat larangan untuk berkholwat dalam posisi diam dimanapun kita berada. Khalwat mencakup pengertian keberduaan yang kita merasa terganggu jika hadir sosok ketiga, maupun keramaian yang bersepakat untuk berpasangan.

Tetapi kadang-kadang ada darurat yang mengharuskan kita bersikap lain. Contohnya ketika si pemegang kunci Ka’bah yang mulia, Utsman bin Thallah ketika mengantar Ummu Salamah. Tentu Utsman tidak mungkin membiarkan Ummu Salamah sendirian menempuh perjalanan penuh bahaya sepanjang 400 km yang hanya berisi pepasir, bebatuan, dan perampok gurun.

6. Percaya akan Hukum kesetimbangan

Bayangkan sejenak, bila penulis maupun kawula muda sedang bermaksiat dan melanggar larangan-larangan Allah, maka bisa terjadi di saat itu pula calon pendamping hidup kami sedang melakukan hal yang sama di sudut lain dunia. Allah telah menggariskan bahwa mencari jodoh yang baik adalah menjaga dan mendidik diri menjadi yang terbaik.

“Wanita –wanita yang kotor adalah untuk lelaki yang kotor dan lelaki yang kotor untuk perempuan yang kotor. Dan wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik…” (QS An Nur 26)

Dalam sebuah kisah, ada seorang bernama Idris yang memulai langkah pengisian usia remajanya dengan tepat dan menantang, yaitu mencari ilmu dan berpetualangan. Sampai suatu ketika dia mengalami kelaparan dalam perjalanannya. Lalu dia menemukan delima. Tanpa berpikir panjang, terucap kata basmalah dan segera dimakannya delima itu. Namun setelah sampai pada kerongkongan, dia pun sadar bahwa apa yang ia makan sesungguhnya bukan miliknya. Akhirnya, Idris meutuskan untuk mencari pemilik pohon itu dan pemilik pohon itu pun berkata Ia akan memberikan delima itu asalkan Idris mau bekerja di kebunnya selama beberapa tahun. Nasi telah menjadi bubur. Idris kaget mendengar kata-kata pemilik kebun itu. Namun ia masih tetap bersyukur daripada harus menanggung siksaan Allah.

Waktu berlalu, hari pun berganti. Idris telah menyelesaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Ketika hendak berpamitan, ternyata pemilik kebun itu memiliki satu syarat lagi. Dia akan ridha membiarkan Idris pergi asalkan Idris mau menikahi putri beliau yang cacat (buta, tuli, bisu, lumpuh). Lagi-lagi Idris sangat terkejut mendengar syarat pemilik kebun itu. Namun, ia tetap bertawakkal kepada Allah. Allah tidak pernah menyia-nyiakan orang yang berbuat baik. Dan benar, saat ditemui si calon istri begitu cantik. Siapa yang mengira bahwa maksud dari pemilik kebun itu adalah anaknya tidak pernah melihat, mendengar, mengatakan, dan menuju sesuatu yang haram lagi tercela. Janji Allah pun terbukti.

Mari kita kembali merenungkan makna keberuntungan, melalui kaidah suci yang telah Allah gariskan. Jika kita seorang shalihah seperti Ummu Salamah, pasti akan sulit bagi kita untuk menghidar dari laki-laki yang baik. Jika kita seorang Shalih, akan ada bidadari yang sedang menunggu kita, Insya Allah.

DAFTAR PUSTAKA

Nurdi, Herry. 2011. Living Islam: Meluruskan Persepsi, Memajukan Peradaban Islam. Bandung: Lingkar Pena.

            Fillah, Salim A. 2006. Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan. Yogyakarta: Pro-U Media.

            Supriyadi, Dedi. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung : Pustaka Setia.

            Koentjaraningrat. 1985. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : Gramedia.

            Wahid, Aburrahman. Rakhmat, Jalaluddin. Rais, M. Amien. Dkk. 1995. ICMI: Antara Status Quo dan Demokratisasi. Bandung : Mizan.

Internet:

http://www.ikhwan-global-locus.info/?module=rums&act=detail&id=27

http://rasulullahsaw.wikia.com/wiki/1._KEBUDAYAAN_ISLAM_SEPERTI_DILUKISKAN_QUR%27AN

http://princessdika.wordpress.com/category/hijab-2/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s