Uncategorized

Hatiku yang Tertinggal di Depok

16 Februari 2012

Keberangkatan kami menuju Depok, untuk menghadiri wisuda kakak.  Akhirnya merasakan naik kereta setelah kurang lebih 9 tahun tidak naik kereta. Saat itu, dalam perjalanan, kuputar lagu-lagu yang membuat perjalanan jadi semakin hangat. Sambil menyusun dialog sederhana, untuk menyapamu, Kak.

Sore hari, Depok, 17 Februari 2012

Saya menamakan ini perjalanan Thowaf UI. Mengelilingi kampus UI, mulai dari rektorat, ke Fakultas Teknik, FIB, Perpus, FE, Hutan, fakultas Psikologi, dan berujung di Masjid Arief Rahman Hakim. Yah, perjalanan yang melelahkan, sekaligus menyenangkan. Dalam perjalanan bersama kakak, kami berbagi satu sama lain. Yah, aku bisa merasakan posisimu saat ini, Mbak Anin. Berat. Dan tahun ini, posisiku bukan lagi dikuatkan, tapi menguatkanmu lewat doa dan celotehan sederhanaku. Allah tak mungkin melanggar satu kalimah pun yang sudah menjadi janji-Nya. Jadi, percayalah, apa yang kau hadapi saat ini adalah apa yang sudah diukur oleh-Nya, kau sanggup, Mbak Anin! Bersama Allah, bersama orang-orang di sekelilingmu, bersama kami, Mama, Bapak, dan adek yang selalu mendoakan mu dalam kejauhan. Entah kau bisa menemukan blogku atau tidak, yang pasti disini aku mengaku, kami bertiga, Mama, Bapak, Adek, menitikkan air mata bahagia ketika melihatmu menggunakan baju wisudawan. Walaupun 1000 kali kau berkata padaku, “Adek salah kalo sampe iri sama Anin”. Aku akan tetep berkata dalam hatiku “Adek tetep iri sama Mbak Anin, tapi adek bangga, adek sayang sama Mbak Anin. Ke-iri-an ini akan jadi semangat sendiri untuk bisa sukses sepertimu, Mbak Anin”. 2 Tahun adalah waktu yang sangat singkat bila kau melakukannya dengan sabar dan tawakkal. Seperti yang selalu kau katakan ketika aku mengalami masa-masa gelap itu🙂 percayalah, semua akan berujung indah. Insya Allaah.

#Pertemuan Payung itu

Malam itu, aku melaksanakan sholat di Masjid Arief Rahman Hakim. Ya, Masjid UI. Lalu melanjutkan perjalanan untuk silaturrahiim dengan anak-anak Gapura. Saat sibuk menenangkan diri sambil memegang payung itu, aku melihat kakak menyalipku, kemudian menoleh ke belakang, dan sama-sama kaget. Entah sama-sama, atau hanya aku yang kaget. Dalam sebuah Rumah Makan Special Sambel itu, entah mengapa aku harus berhadapan dengan kakak ketika makan. Dan entah mengapa juga ketika kakak ingin mencoba jenis sambal yang bernama ‘Sambel Ati Kurang Ajar’ itu aku refleks menyodorkan agar semakin dekat dengan tangan kakak.

18 Februari 2012

Wisuda Kakakku tersayang, Avina Anin Nasia. Jujur, aku menunggu kedatangan kakak untuk turut hadir. Dan, kakak datang terlambat, dan kakak tidak memakai kaos yang kuberikan seperti waktu ‘itu’. Tidak apa-apa, aku tetap senang kau bisa hadir, dan bertemu dengan kedua orang tuaku. Kakak sama sekali tidak menyapaku, apalagi mengajak berbincang. aku hanya tertawa sekaligus gelisah, jika ini ‘pertemuan terakhir’ dan tak sepatah kata pun terucap. dan ternyata benar, kakak sama sekali tidak megucapkan sepatah kata, ataupun sedikit senyuman untukku. Sampai akhirnya kita berpisahpun, kita tak bersalaman.

 

Malam tuk berpisah

Menuju Stasiun Pondok Cina, aku masih berusaha menahan air mataku. Menahan dengan segala kenyataan yang lucu ini sebenarnya. Mbak Anin menepuk pundakku sembari berkata,

“Adek, inget kan pesen Anin waktu kita thowaf UI?”

Aku sudah benar-benar tidak bisa menahan bulir-bulir air mata ini. Aku hanya mengangguk dalam-dalam, tanpa menatapnya. Karena dengan menatapya, aku akan semakin terharu.

“Adek , inget kan, bukan menempati tempat terbaik, tapi jadilah yang terbaik di mana kita berada. Itu pesen Anin. Anin ngga mau adek menyesal. Mumpung masih ada waktu. Adek yang kuat. Kejarlah apa yang kamu inginkan. Mau kamu di jungkir balik, nangis darah, pingsan, gemeter, dan lain-lain, tetep aja tujuanmu jadi Psikolog. lakukan apa yang kamu bisa semaksimal mungkin, dan percayalah, Allaah ada untuk-Mu. Anin juga lagi belajar untuk percaya itu. Saling menguatkanlah pokoknya. Doain Anin juga supaya bisa lulus”

Aku menarik nafas panjang tanpa bisa berkata apapun. Tanganku benar-benar gemetar mendengar kata-katanya. Isak tangisku pun hampir terdengar. ah, se-kolerisnya mbak Anin pun, tetap saja dia wanita yang berpotensi menjadi melankolis. dan se-sanguinis nya aku, tetap saja cengeng seperti ini.

dalam hatikupun menjawab

terima kasihMbak Anin. Adek akan mengejar cita-cita adek jadi Psikolog. Adek akan mengejar apa yang adek inginkan. Termasuk mengejar cinta adek.”

Mama, Bapak, dan aku segera memasuki gerbang KRL dan meninggalkan stasiun Pondok Cina. Yah, selamat tinggal Pondok Cina.

 

Dalam KRL, aku berusaha menenangkan hatiku dengan membaca Asmaul Husna. Lalu kuputar lagu ‘Satu Jam Saja’. Yah, tiba-tiba aku teringat padamu, Kak. Kakak dulu suka sekali dengan lagu “Diam Tanpa Kata” kan ya? Dan kakak kini bukan lagi dalam posisi didiamkan, tapi mendiamkan. Bagaimana rasanya, Kak?

Aku menyadarkan kepalaku di pundak Mama. Semoga saja Mama tidak menyadari salah satu alasanku menitikkan air mata ini karenamu, Kakak.

Bukan karena kakak sih, karena aku sendiri. Aku kecewa atas sikapku yang tidak bisa berkata apapun dihadapanmu. Aku berharap, 2 hari ini bukanlah pertemuan terakhir kita. Aku masih berharap, Kak. Entah harapan apa. Yang pasti aku juga berharap bisa segera mengikhlaskan semua mimpi-mimpiku yang belum terwujud, melepas perasaanku pada kakak agar tidak semakin jauh. Tapi, yang pasti aku semakin penasaran dengan skenario yang disusun oleh Allah.🙂

 

Tibalah di stasiun Gambir,

Alhamdulillah, terima kasih ya Allaah, yang telah mengizinkanku untuk berjumpa dengan Mbak Anin, teman-teman, dan kakak. Terima kasih masih mengizinkan aku melihat senyum bahagianya, walaupun bukan buat aku. Terima kasih.🙂

Ketika kereta malam mulai bergerak..

Kuhapus air mata yang (masih saja) menetes dan membasahi pipiku.

Meninggalkan stasiun Gambir, menuju Stasiun Pasar Turi.

Harapanku untuk ‘diculik’ , atau paling tidak melihatnya sekali lagi, pupus.

Bisa jadi, itu kunjungan pertama dan terakhir ku kesana, ke Universitas Impianku.

 

#Sepotong Dialog dalam Diam

Sepertinya, dialog untuk kita di 2 hari ini hanya tentang keberangkatanku aja. Haha (tertawa maksa) Sebenernya pingin ngobrol banyak sama kakak (sayang cuma pengen, ngga ada realisasi), sebenernya pengen banyak cerita seperti dulu, seperti dulu aku nggojloki kakak, seperti dulu kita bisa tertawa dengan hal-hal yang sederhana, tapi sepertinya.. seiring berjalannya waktu, hehe, semakin bingung mau ngobrol apa, yaudah mungkin 2 hari ini emang bisa begini. Hehe, anyway, thanks udah dateng di wisudanya mbak Anin, smg proses menuju K2N nya lancar. Makasih, Kakak

 

Iya, Val. Mungkin aku atau mungkin kita melewatkan kesempatan ini. I’m sorry for that. Sebenarnya pengen juga ngobrol banyak secara langsung, Val. Jangan dipaksakan ketawa jika memang tidak ingin, J sepertinya ada kecanggungan gara-gara udah jarang ketemu mungkin, kebiasaan lewat dunia tidak nyata,  semoga ada kesempatan kita bercengkrama seperti dulu. . Hanya keinginan, tapi aku ngga melu tahun ini, val, ngga diizini. . iya, val sama2 . Sungkan juga Cuma bisa membawa diri pas wisuda. Semoga kamu juga bisa menyusul seperti mbakmu ya, yakin iso dan kapan2 main kesinil lagi ya😀 Maaf juga agak lama balasnya, agak mikir tadi

 

Aku malah ngga nyangka bakal di bales. Hehe. Aamiin, makasih doanya. Smg kakak dan semua anak Gapura juga selalu lancar kuliahnya J Hehe, iya, Kak sebenernya dari kemarin ps ngembalikan buku, aku juga udah ngganjel, tapi tadi itu puncak banget dimana aku Cuma bisa lihat kakak. Dan ngga nyapa sedikitpun. Aneh ya. Ya Sudahlah. Hehehehhe. Mau apa dikata J. Oke, semoga diberi kesempatan kesana lagi. Makanya cepet lulus, Kak. Biar aku ada alasan ke Jkt lagi. Haha

 

Iya, semoga kuliah kita semua juga seperti itu. . Berprestasi di passion masing2. . Amiin, 2,5 tahun lg. . Hmmm. Apa yg ganjel ya kira2? Sepertinya ini butuh analisis lebih (aduh abot bosoe). Hahaha. .

 

Analisis aja, Kak. Monggo😀. Aku ngga berniat meng-analisis hehe, hanya mengikuti alur keganjelan ini sampai ada jawaban yang muncul dari-Nya. Hehe

 

Hmmm, setuju sama kata ‘ikuti alurnya’ <— contoh *****

Aamiin, yakin ada Val😀

 

aku sengaja tak membalasnya lagi, karena kurasa sudah cukup,

dan aku hanya menuliskan dalam twitterku “Annyeong, Wassalamu’alaikum”

dan kau menjawabnya.

Itu sudah lebih dari cukup bagiku.

sekali lagi, aku akan terus belajar melepas perasaanku,

tanpa melupakan rasa penasaranku akan skenario Sang Maha Kasih ini,

4 thoughts on “Hatiku yang Tertinggal di Depok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s