Uncategorized

Rembulan Tenggelam di Wajahmu (rev)

Inilah sebuah buku karya Tere Liye yang saya baca ketika liburan. Sebenarnya, sejak kepulangan Mbak Anin ke rumah, saya sudah sangat penasaran dengan novel yang selalu ia bawa kemana-mana. Nyali saya pun teruji melihat bahasa di awal-awal halaman yang penuh tanda tanya.

Novel yang beralurkan maju mundur, bukan sekedar flashback ini mengisahkan seorang lelaki bernama Rehan, yang harus menerima kenyataan tidak sempat merasakan belaian kasih sayang kedua orang tuanya, harus masuk panti asuhan, dan mengetahui kelakuan buruk penjaga panti yang mengambil uang yang diberikan donatur agar bisa naik haji. Lalu, dia memutuskan untuk kabur dari Panti yang menurutnya ‘lebih najis’ dari dirinya itu, dan memulai hidup baru menjadi ‘apa saja yang dia inginkan’. Sebelum ia pergi, ia memang berniat mencari berkas tentang dirinya dan keluarganya. Ya, ia menemukan selembar kertas koran yang berisi terjadi sebuah kebakaran di sebuah ruko yang menewaskan banyak orang. Selembar koran itu terletak di sekitar data-data tentang dirinya.

Mengalami berbagai fase kehidupan menjadi tukang judi, pencopet, pengamen, ia benar-benar merasa bebas menjadi dirinya yang seutuhnya. Tanpa ada pukulan dan paksaan dari penjaga panti itu. Dalam usia 25 tahunnya pun, Ray (Nama baru Rehan) juga mengalami kisah asmara dengan seorang gadis.

Dalam perjalanan kehidupannya itu, ternyata menjawab semua pertanyaan yang ia pendam dalam hati.

“Mengapa ada orang-orang yang tega membakar ruko kami?”

“Mengapa aku harus tinggal di Panti itu?”

“Mengapa Kau ambil nyawa orang-orang yang kusayangi begitu cepat?”

“Mengapa Engkau biarkan aku menderita dengan segala penyakitku?”

dan satu lagi, “Apakah Tuhan itu adil?”

SEMUA pertanyaan ini akan terjawab secara mendalam di novel ini. Membaca novel ini membuat saya masuk ke dalam kehidupan Rehan, dan semakin menyadari Keadilan Allah bagi seluruh manusia dan alam semesta ini. Saya semakin sadar, akan janji Allah dalam sebuah surat berikut ini :

Boleh jadi apa yang kamu sukai merupakan hal yang buruk  bagimu,

dan boleh jadi apa yang kamu benci merupakan hal yang terbaik bagimu.

Dan Allah Maha Mengetahui  sedangkan kamu tidak mengetahui

(Q. S. Albaqarah 216)

Penasaran ? Ingin tahu betapa Tere Liye menuliskan jawaban Allah dengan begitu indahnya? Silahkan baca “Rembulan Tenggelam di Wajahmu”🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s