Kumpulan Tugas Psikologiku :)

Keterkaitan Antara Konsep Humanistik dengan Posistivisme, dan Perbandingan dengan Post Positivisme dan Anti Positivisme

ESAI FILSAFAT ILMU DAN LOGIKA

Keterkaitan Antara Konsep Humanistik dengan Posistivisme, dan Perbandingan dengan Post Positivisme dan Anti Positivisme

 

Dikerjakan Untuk Memenuhi UAS Mata Kuliah Filsafat Ilmu dan Logika

KELAS A

Oleh : Valina Khiarin Nisa           

Humanistik adalah salah satu konsep yang mengutamakan pemikiran manusia tentang pengalaman sadar. Aliran humanistik muncul pada tahun 1940an sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap pendekatan psikoanalisa dan behavioristik. Konsep humanistik menekankan pentingnya kesadaran, aktualisasi diri, dan hal-hal positif tentang manusia. Dalam esai ini, penulis mencoba mengulas keterkaitan konsep humanistik dengan teori positivisme, post positivisme, dan juga antipositivisme.

            Salah satu ciri teori positivisme yaitu bebas nilai, yaitu perbedaan yang tegas antara fakta dan nilai serta mengharuskan subjek peneliti mengambil jarak dengan semesta dengan bersikap imparsial-netral. Di sini, muncullah keterkaitan dengan konsep humanistik yang mengutamakan kesadaran dalam merasakan dan menilai suatu objek.

            Ciri kedua dari positivisme adalah fenomenalisme, yaitu semesta fenomena nyatalah yang kita persepsikan. Jika dikaitkan dengan konsep humanistik, kita harus selalu menggunakan kesadaran dalam memandang suatu objek atau permasalahan. Kesadaran inilah yang merupakan fenomena nyata konsep humanistik untuk memanusiakan manusia.  Kesadaran ini bukan sekedar objek yang nyata, namun juga naluri yang nyata, walaupun tidak berbentuk.

Selanjutnya, ciri ketiga dari positivisme adalah nominalisme, yaitu berfokus pada yang individual-partikular. Kenyataan menunjukkan bahwa universalisme dalam penamaan terkadang tidak semuanyanya sesuai dengan fakta. Kaitannya dalam konsep humanistik, psikologi humanistik mencoba untuk menemukan jalan masuk ke arah studi dan pemahaman individu secara keseluruhan, mendeskripsikan secara lengkap arti sebagai individu yang meliputi pendeskripsian bakat-bakat bawaan manusia, pertumbuhan, kematangan, penurunan, interaksi dengan lingkungan fisik dan sosialnya, dan jenis pengalamannya untuk mencapai aktualisasi diri. Sedangkan, proses dalam pencapaian aktualisasi diri tiap individu bisa saja berbeda. Jadi, bila kita telah menyimpulkan keseluruhan proses aktualisasi diri kita yang merupakan fakta, bisa jadi bukan merupakan fakta dari proses aktualisasi diri orang lain.

            Berikutnya, ciri keempat dari positivisme, sebuah pereduksian objek menjadi sebuah fakta-fakta yang dapat dipersepsikan. Keterkaitannya dalam humanistik adalah dengan adanya hierarki kebutuhan yang disusun oleh Abraham Maslow. Maslow mereduksi berbagai keinginan-keinginan manusia menjadi tujuh bagian keinginan. Pereduksian yang ia lakukan dengan cara mengelompokkan hal-hal yang mirip menjadi satu kesatuan. Misalnya, kebutuhan makan, minum, seks, menjadi kebutuhan fisiologis. Kebutuhan untuk memperoleh kasih sayang, mencintai, dicintai, memiliki, dan dimiliki digolongkan sebagai kebutuhan untuk cinta.

            Seiring dengan perkembangan masyarakat di Eropa, pada abad 20, muncullah positivisme logis yang menekankan pada bahasa ilmiah dan logika. Prinsip yang dipegang kaum positivisme logis adalah isomorfi, yaitu hubungan mutlak antara bahasa dan fakta. Prinsip ini juga dipegang oleh salah satu kontribusi humanistik, yaitu client centered therapy,yang didirikan oleh Carl Roger. Terapi ini memusatkan pada kesadaran diri klien. Dalam teknik ini terapist tidak mengarahkan atau menyarankan sesuatu pada klien, melainkan membalikkan kembali pernyataan kepada diri klien, seperti “Jadi kamu merasa demikian?” “Apa yang kamu lakukan..”, dengan memotivasi klien untuk menyadari permasalahan dan perasaan yang dialaminya. Akhirnya klien berpikir realistis, menemukan jawaban-jawaban, serta menjelaskan dengan bahasa yang sesuai dengan apa yang klien alami.

            Apabila dilihat dari sudut pandang pascapositivisme yang intinya mengkritik bahwa tidak ada satupun teori yang sepenuhnya dapat dijelaskan melalui bukti-bukti empiris, dan juga pengaruh interaksi antara subjek dan objek penelitian, yang menyatakan bahwa hasil penelitian bukan reportase objektif melainkan hasil interaksi manusia, semesta yang penuh dengan persoalan dan senantiasa berubah. Konsep humanistik sendiri berusaha memahami tiap individu yang memiliki cara yang berbeda-beda dan urutan yang tak sama dalam rangka pemenuhan kebutuhan mencapai aktualisasi diri. Proses pencapaian aktualisasi diri ini juga tergantung dari interaksinya dengan lingkungan. Selain itu, secara implisit humanistik menyadari adanya kodrat Tuhan dalam keinginan-keinginan manusia (kasih sayang, seks, bertahan hidup) dimana kodrat Tuhan sifatnya sangat luas dan ada batas-batas dimana manusia tidak bisa mempertanyakan sesuatu untuk menjadi bukti yang empiris.

            Bila ditinjau dari sudut pandang antipositivisme, yang pada intinya sebuah teori yang mematok keberlakuan universal pada dasarnya selalu dapat digugurkan oleh satu fakta anomali. Pada dasarnya, Popper menolak objektivisme yang permanen dan stabil, dan menganggap positivisme hanya memandang dari semesta objektif-faktual yang hanya diperoleh dengan cara menghapus unsur-unsur subjektif. Hal ini sangatlah cocok dengan konsep Humanistik yang cenderung sangat relatif dan bisa mengalami perubahan –perubahan dalam tiap individu. Misalnya, konsep Hierarchy of Needs yang disusun oleh Maslow. Ketika dia menyusun hierarki tersebut, dia melakukan observasi terhadap dirinya sendiri dan mayoritas orang-orang di sekelilingnya. Dia menyatakan bahwa kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan utama. Memang, untuk makan dan minum adalah kebutuhan dasar. Namun, tidak semua orang harus mendahulukan kebutuhan seks dalam hidupnya.  Bisa saja, ada individu yang lebih mementingkan penghargaan dulu, atau pemerolehan rasa aman, baru membutuhkan seks.

           

DAFTAR PUSTAKA

Adian, Donny Gahral. (2002). Menyoal Objektivisme Ilmu Pengetahuan Dari David Hume sampai Thomas Kuhn (Cetakan I). Jakarta: Teraju

Adib, Moch. Santoso, Listyono. Sudjana, I Nyoman Naya. Setiawan, Budi. (2009). Pengantar Ilmu dan Logika Sebuah Pengantar. Surabaya.

Brennan, James F. (2002). History and Systems of Psychology (6th ed). New Jersey : Pearson Education

Schultz, Duanne P. Schultz, Sydney Ellen. (2008). A History Of Modern Psychology (9th ed). USA : Thomson Wadsworth.

Katsoff, Louis O. (1992). Pengantar Filsafat. Yogyakarta :Tiara Wacana Yogya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s