Uncategorized

Nikmatnya Mengendapkan Hati

Minggu-minggu ini, bisa dikatakan minggu IP, IPK, atau sejenisnya lah. Minggu-minggu penuh dengan pertanyaan ,

“Bagaimana Indeks Prestasimu, sobat?”

“Piye IP ne?”

Indeks Prestasi Kumulatif. Sesuatu yang cukup sensitif bagi sebagian besar mahasiswa yang berpijak di bumi akademika. Saya pun menyadari, ini memang bagian dari privacy kita. Boleh di-share kan, boleh juga tidak. Berbagi juga baik kok, untuk saling menyemangati. Iya kan?

Tapi, sadar tidak sadar, terkadang kita lepas kendali.

Marwan               : Aisss %^*)&^*(! Sebel banget.

Mawar                  : Kenapa, Wan?

Marwan               : ini, IPK ku turun, sayang banget tau gak, dikit lagi bisa 3,9! Bayangin deh, IPK 3,87. Sayang     banget kan!!! Akhirnya IP 3,9 ku harus kandas di tengah jalan, sebel abis deh pokoknya !!!!!!!!!!!!

Mawar                  : (Terdiam, Terpaku, Sedih)

Bagaimana tidak sedih? Mendengar kata-kata Marwan yang antusias seperti itu. IPK mereka mirip sih, komanya. Beda angka depan saja. Angka depan Mawar kepala 2. Yeah. 2,87

Bayangkan bila kita di posisi Mawar, pasti lebih ngga enak kan?

Pasti semakin merasa terpuruk mendengar kata-kata Marwan.

Padahal niat Marwan juga bukan untuk menyakiti siapapun. Hanya saja, hasil yang ia peroleh tidak sesuai dengan target yang ia rencanakan. IPK 3,9. Memang, setiap orang memiliki target masing-masing, bisa sama, bisa juga berbeda. Namun, bukan berarti kita bisa meluapkan emosi kita semau kita tanpa memahami perasaan orang lain yang mungkin berada di bawah kita kan?

Boleh jadi apa yang kamu sukai merupakan hal yang buruk  bagimu,

dan boleh jadi apa yang kamu benci merupakan hal yang terbaik bagimu.

Dan Allah Maha Mengetahui  sedangkan kamu tidak mengetahui

(Q. S. Albaqarah 216)

Pernahkah terbesit oleh kita, bahwa firman-Nya ini nyata adanya. Pernahkah kita sadari bahwa kenyataannya kita memang tidak akan pernah tahu reaksi yang terjadi atas kejadian-kejadian yang datang dalam hidup kita. Bisa jadi, dengan penurunan IPK yang dialami oleh Marwan, Allah akan menuntunnya untuk lebih meningkatkan lagi ikhtiarnya. Bisa jadi, penurunan IPK itu juga ujian dari Allah agar Marwan menjadi sosok yang lebih tegar dan kuat. Bisa jadi, semua itu ujian bagi Marwan, seberapa kuatkah ia dalam mengendalikan dirinya dalam situasi sosial di sekelilingnya.

                Dalam buku Pusaran Energi Ka’bah, Agus Mustofa menuliskan..

kuncinya adalah hati. Hati lebih berfungsi untuk merasakan dan memahami. Sedangkan pikiran (otak) lebih berfungsi untuk berfikir, mengingat, dan menganalisa”

 

                Coba rasakan, pahami kondisi sekeliling kita. Rasakan debarannya, lalu pikirkan terlebih dahulu, apa yang seharusnya kita katakan, dan apa yang sebaiknya cukup kita pendam dalam hati. Dengan begitu, tidak akan ada yang secara tidak sengaja tersakiti dan terpuruk seperti Mawar.  Dengan begitu , terlaksananya satu tugas kita sebagai makhluk sosial, saling menguatkan sesama. Terwujudlah sebuah harmoni kehidupan yang penuh dengan cinta kasih.

                Bila kita pernah berada di posisi Mawar, sedih so pasti. Walaupun sekecil apapun kesedihan itu, tetap saja namanya sedih. Namun, jangan membuat kita semakin terpuruk , jatuh, dan terinjak (duh, bahasanya bikin saya ingat seseorang). Semakin, kita ragu, semakin kita jauh dalam meraih mimpi-mimpi kita.

 

Bukankah Allah mengikuti perasaan hamba-Nya?

 

Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lengah dan ragu-Muhammad SAW

 

Yup. Jangan pernah lengah dan ragu dalam meraih satu demi satu mimpi kita. Jangan pernah putus asa dalam melangkah, lalu berhenti di tengah jalan dan tidak tahu mau kemana. Na’udzubillah. Saat itu, saya yakin, Allah sedang menguji kesabaran kita untuk menghadapi dan memaklumi orang-orang yang mungkin tidak seperti yang kita harapkan. Allah sedang menguji kita, seberapa tangguhkah kita untuk lebih berikhtiar lagi agar bisa meningkatkan prestasi. Seberapa Istiqomahkah kita dalam berdoa dan berusaha demi meraih Ridho Allah?

Ukuran sukses sejati terletak pada kemampuan anda merasakan pikiran bahagia – Erbe Sentanu

Seberapa mampukah kita bersyukur kepada-Nya, sahabat?

Betapa nikmatnya bila kita bisa selalu bersyukur menerima kenyataan hidup dan melawan semuanya dengan senyuman penuh percaya diri, sambil menepuk dada, “Aku kuat, Aku bisa! Alhamdulillaah”

 

Tidak ada seseorang yang menginginkan akhir yang buruk. Maka , awali segala sesuatu dengan kebaikan pula. Bila, kita sudah mengawalinya dengan baik, atas ridha Allah, dan yang terjadi adalah sebuah kesulitan yang menyebabkan kesedihan, maka yakinlah bahwa itu bukanlah sebuah AKHIR, yakinlah itu hanya SEMENTARA. Ini hanyalah sepotong perjalanan yang menguatkanmu menuju kesuksesan dan air mata bahagia. Yakinlah semua itu hanyalah ujian dari-Nya, tanda kita semakin di sayang oleh-Nya, apabila kita bisa melalui semua itu dengan ikhlas dan penuh ikhtiar.

 

Maka Sesungguhnya, bersama kesulitan pasti ada kemudahan

Sesungguhnya, bersama kesulitan pasti ada kemudahan

(Qs Al Insyirah : 5-6)

 

Oke, Sahabat. Semoga hati dan pikiran kita selalu mengingat Allah dan menjadi hamba yang bersyukur. Cerita sederhana ini pun ditutup dengan . . .

Mawar                  : Marwan, ingin bahagia kan? Ketika kita sedang berada di dalam kesedihan, lihatlah berapa banyak teman-temanmu yang lebih sedih, bahkan untuk bersekolah pun tidak bisa.

Marwan               : (sadar) Astaghfirullaah, Maafin Marwan ya, Mawar. Marwan kurang bersyukur sama rezeki yang sudah diberikan oleh Allah.

Mawar                  : Mawar ngga apa-apa kok. Mawar ngga punya hak untuk memaafkanmu, tapi Allah lah yang memiliki hak untuk memaafkanmu

 

NYANYIAN SUARA HATI

By : Ebiet G. Ade

Seringkali aku merasa jengah dan sungkan
bicara tentang saudara kita
yang terhimpit derita kemiskinan
Sebab sesungguhnya mereka mungkin
lebih terhormat di mata alam
Sebab sesungguhnya mereka mungkin
lebih berharga di mata Tuhan
Kadangkala aku bahkan merasa cemburu
melihat senyum polos dan lepas
meski sambil menahan kelaparan
Maka sesungguhnya mereka lebih kaya
meskipun tanpa harta
Maka sesungguhnya mereka lebih bahagia
Dapat mensyukuri yang dimiliki
Sesungguhnyalah aku ingin belajar
sikap mereka menjalani hidup
Angin, tolonglah bawakan aku
sepotong kertas dan pena tajam
Akan kutulis tebal-tebal
pelajaranmu lewat diam
Kadangkala aku bahkan merasa cemburu
melihat senyum polos dan lepas
meski sambil menahan kelaparan
Maka sesungguhnya mereka lebih kaya
meskipun tanpa harta
Maka sesungguhnya mereka lebih bahagia
Dapat mensyukuri yang dimiliki
Sesungguhnyalah aku ingin belajar
sikap mereka menjalani hidup
Angin, tolonglah bawakan aku
sepotong kertas dan pena tajam
Akan kutulis tebal-tebal
pelajaranmu lewat diam
Akan kusimpan dalam-dalam
pelajaranmu lewat diam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s