Uncategorized

Sepercik Kerinduan untuk Matematika

                Hari ini, 24 Februari 2012. Akhirnya setelah kurang lebih 6 bulan, atau satu semester berkutat dengan buku – buku psikologi, sosiologi, antropologi, filsafat, dan semuanya yang berbau sosial, akhirnya hari ini saya memberani untuk membuka sebuah buku yang berjudul “STATISTIKA” Jilid 1 karya Sutrisno Hadi.

Dulu, saya sangat menyukai matematika..

Sejak SD, selalu mengikuti olimpiade matematika..

Tak pernah menang..

Hanya lolos ke semifinal..

Atau peringkat 6..

Diambil 5 besar..

Tapi saya sangat menyukai..

Angka demi angka, rumus yang begitu unik..

Pemecahan masalah..

Hingga SMA pun saya semakin menyukainya..

Sekalipun nilai 40 juga pernah mewarnai hari-hari saya di tahun pertama SMA..

Lalu perjumpaan dengan Bapak Sunardi

Hingga menjadi sosok yangbegitu menyesal ketika tidak memperoleh nilai 90 keatas..

 

Ya. Akhirnya menjadi Valina , si pecinta matematika. Setiap hari rajin mencatat, rajin berlatih. Setiap hari selalu senyum-senyum melihat perubahan dalam diri Valin dari tukang tidur  saat pelajarannya Bu Musdalimah ,  lalu jadi salah satu makhluk yang aktif di kelas, aktif mengerjakan soal, tapi lebih aktif tertawa terbahak-bahak mendengar cerita guru saya, Bapak SunardiDan matematika juga menjadi alternatif saya untuk meminjam kitab kakak kelas saya. Memang kebetulan tidak punya kitab itu dan membutuhkannya. Kebetulan juga hanya kakak itu yang membalas SMS ku. Semua cerita pahit manis ini membuat saya tergila-gila dengan matematika.

 

Hal yang cukup saya takuti ketika memilih Psikologi sebagai jurusan kuliah saya adalah takut berpisah dengan matematika. Bagaimana bisa seorang Valina menempuh pendidikan tanpa hitung-menghitung. Itulah sebabnya, hari-hari menjelang pendaftaran SNMPTN tulis, saya bingung untuk pilihan kedua. Pilihan pertama, tetap jurusan Psikologi di Universitas Impian. Pilihan kedua? Tetap pada Psikologi di Universitas Airlangga, atau Ilmu yang ada hitung-menghitung nya. Yeah, Akuntansi.  Waktu itu Ibu sempat menyarankan saya untuk memilih Akuntansi, mengingat saya sangat menyukai matematika dan pembukuan. Di sisi lain, sejak SMP saya sangat lega ketika bisa menjadi tempat sampah seseorang, saya juga menyukai dalam hal mengamati perilaku seseorang, mempelajari sebab-sebab tindakan abnormal, dan juga pengaruh keluarga dan lingkungan pada kepribadian, akhirnya tetap mantap untuk memilih Psikologi untuk mengembangkan minat saya, belum bakat.

 

                Dan akhirnya diterima SNMPTN tulis, di pilihan kedua, Psikologi Unair. Alhamdulillaah. Psikologi, jurusan yang saya idam-idamkan. Lalu, terbesir di pikiran saya, akankah saya siap meninggalkan matematika?

                Dan ternyata benar. Minggu-minggu pertama kuliah di Psikologi Unair, saya benar-benar mengalami perubahan cara belajar. Semua mata kuliah di Psikologi memang mewajibkan mahasiswanya untuk rajin membaca dan menulis. Dua ‘aktivitas’ yang selalu membuat saya minder. Alasannya belum bisa saya pastikan mengapa, bukan juga karena menyukai matematika, lalu tidak menyukai membaca dan menulis. Bukaan, bukan itu alasannya.

                Jadi, setiap hari belajar, membaca kitab-kitab tebal berbahasa Inggris, lalu menerjemahkannya dan merekam dalam otak, menghafal juga terkadang, merangkum, menuliskannya lagi dengan bahasa yang berbeda, me-review jurnal demi jurnal, presentasi, begitulah hari-hari saya yang tidak menyentuh matematika  sama sekali.

                Dan kini, di semester II ini, saya akan berjumpa dengan mata kuliah STATISTIKA I dan STATISTIKA II . Sombong sekali yah membanggakan pada publik bahwa saya akan menjalani hari-hari bersama statistika selama satu semester kedepan. Tapi itulah kebahagiaan yang saya rasakan. Setidaknya ada satu alasan dan satu lagi motivasi buat saya untuk bertahan di sini, Psikologi Universitas Airlangga.

                Dan hari ini juga saya telah menyelesaikan buku Statistika ini, dengan perasaan melepas rindu yang teramat dalam, saya menyelesaikan dengan harapan saya bisa tetap bersemangat menghadapi dunia perkuliahan, khususnya STATISTIKA.

                Allah akan menolong hambanya yang berusaha, melakukan perubahan yang lebih baik, selalu ikhtiar dan istiqomah menjalankan tugas-tugas pencapaian kesuksesan dunia dan akhiraat. Allah tidak akan mengubah nasib seseorang yang tidak menyeimbangkan antara doa dan usahanya. Dan, Allah sudah berjanji untuk selalu menolong hamba-hambaNya yang ikhlas.  Lalu, apa yang membuat saya menyerah untuk menghadapi ‘semester 2’ beserta ‘segala isinya’?

Aza-Aza Fighting, Valina. Hamasah. Bersemangat. !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s