Uncategorized

Introspeksi dalam Sebuah Harapan

Aku ingin bicara…
Ketika proposal pengajuan “Waktu Untuk Bicara” sudah ditandatangani oleh Tuhan
dan Waktu telah melaksanakan mandatNya dengan baik…
Kemudian sepanjang jalan Depok sudah menghiasi dengan hujan berbentuk ‘jantung’
Untuk sekadar berkata ‘hai’ saja aku tak mampu…
Alhamdulillaah, aku seorang wanita…
Bukan kewajibanku untuk menunggu…
Bukan kewajibanku untuk bertahan…
Bukan kewajibanku juga tuk mengutarakan…
Bukan kewajibanku juga tuk mengungkapkan perasaanku…
Semua itu adalah hakku…
Bisa dilakukan, bisa juga tak dilakukan..
Jadi…
Bukan kewajibanku…
Bukan…
Kewajibanku hanyalah meminta Tuhan menjaga perasaanku sampai saat yang tepat…
Saat yang tepat Tuhan menjawab semua kebisuanku, mungkin juga kebisuanmu, kita…
 
 
Untuk Perempuan
By : Sheila on 7
 
Jangan mengejarnya jangan mencarinya
Dia yang kan menemukanmu
Kau mekar di hatinya
Di hari yang tepat..

Jangan mengejarku dan jangan mencariku
Aku yang kan menemukanmu
Kau mekar di hatiku
Di hari yang tepat..

Tidaklah mawar hampiri kumbang
Bukanlah cinta bila kau kejar
Tenanglah tenang dia kan datang
Dan memungutmu ke hatinya yang terdalam
Bahkan dia takkan bertahan tanpamu

Sebukan harimu jangan fikirkanku
Takdir yang kan menuntunku
Pulang kepada mu
Di hari yang tepat

Tidaklah mawar hampiri kumbang
Bukanlah cinta bila kau kejar
Tenanglah tenang aku kan datang
Dan memungutmu ke hatiku yang terdalam
Bahkan ku takkan bertahan tanpamu

Aku yang kan datang..

Aku yang kan datang..
Aku yang kan datang..
Aku yang kan datang..
(menghampirimu)
 
 
Lalu, aku kembali bertanya kepada hari-hariku…
Apakah selama ini aku mengejarnya?
Apakaha selama ini aku mencarinya?
Apakah selama ini memang demikian aku?
 
Aku…hanya terkadang merindukan dua…atau tiga tahun silam saja
Aku hanya mencoba melepas kerinduanku saja, lalu mengharap bisa bicara lebih lewat pertemuan itu
Ya, akhirnya keluar juga kata ‘mengharap’
 
Sekecil apapun sebuha harapan, tetap saja namanya sebuah harapan
 
dan ketika harapan kecil itu tak terwujud, rasanya lucu saja…
Hiburan terindah saat itu adalah self-talk
 
Hey, syukurlah, Valina Khiarin Nisa. Kau masih diizinkan Tuhan untuk melihatnya. Syukurlah kau bisa melihatnya menggunakan kacamata, syukurlah Tuhan melancarkan perjalananmu sekeluarga. Syukurlah dia bisa bersalaman dengan kedua orang tuamu, walau mungkin itu yang pertama dan terakhir kalinya, Syukurlah saat itu dia bukan melupakanmu, melainkan hanya karena ketidaksanggupan bicara ketika harus dihadapkan dalam dunia nyata. Valina, sadarlah. tujuanmu saat itu adalah membangkitkan semangatnya. Tugasmu selesai. Dia sudah menemukan mimpi-mimpinya. Kau sebentar lagi juga akan menemukan mimpi-mimpimu. Jadi, tenanglah, kau dan dia sama sama merajut mimpi di tempat yang berbeda. Bukan berarti hasilnya tak bisa disatukan kan? Tapi, bukan berarti harus disatukan juga kan? Itu semua hanyalah urusan Penulis Skenario. Dia hanya mewajibkanmu menjaga dirimu, dan kebutuhanmu adalah mendoakan dirimu dan orang-orang yang kau sayangi. Bermimpilah,dan berkaryalah, Valina”
 
Pikiran-pikiran yang bercakap-cakap dan mengadakan kultum untuk diriku sendiri ketika kereta bergerak perlahan-lahan meninggalkan stasiun Gambir. Gemerlap lampu Ibu Kota dan sinaran bintang menemani senyumanku pada kaca, dan air mata yang terus mengalir tanpa diminta.
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s