Uncategorized

Sunset Bersama Rosie, Sebuah Novel Inspiratif Tuk Memilih dan Menentukan Kesempatan :)

Novel ‘Sunset Bersama Rosie’ ini, novel yang diterbitkan bulan November 2011 ini, ditulis Tere Liye. Saya membelinya di togamas beberapa waktu lalu bersama Tami dan Dhai. Sebenarnya, saya sangat defisit uang saat itu. dan tidak ingin membeli banyak buku, tapi setelah membaca cover belakang dari novel ini…

Sebenarnya, apakah itu perasaan? Keinginan? Rasa memiliki? Rasa sakit, gelisah, sesak, tidak bisa tidur, kerinduan, kebencian? Bukankah dengan berlalunya waktu semuanya seperti gelas kosong yang berdebu, begitu-begitu saja, tidak istimewa. Malah lucu serta gemas apabila dikenang.

Sebenarnya, apakah pengorbanan memiliki harga dan batasan? atau priceless, tidak terbeli dengan uang, karena kita lakukan hanya untuk sesuatu yang amat spesial di waktu yang juga spesial?

Atau boleh jadi gratis karena kita lakukan saja, dan selalu menyenangkan untuk dilakukan berkali-kali. Sebenarnya apakah itu arti ‘kesempatan’? Apakah itu makna ‘keputusan’?

Bagaimana mungkin terkadang kita menyesal karena sebuah ‘keputusan’ atas sepucuk ‘kesempatan’?

Sebenarnya, SIAPAKAH yang selalu pantas kita sayangi?

-Darwis Tere Liye

Seketika hati ini teringat kembali akan kenangan-kenangan yang juga terselip kesempatan di dalamnya. Pengalaman pribadi saya? hmm.. entahlah. tapi, hal yang tentunya bahagia sekaligus menyesakkan, yang saya definisikan sebagai perasaan ‘lucu’.  Sambil grogi menghitung uang yang memang tak kumasukkan dalam dompet, saya memutuskan untuk membeli novel ini.

Novel ini berawal dari lamunan sang tokoh utama, Tegar Karang, yang selalu menyukai waktu pagi. Pagi, tandanya satu kesesakkan di malam hari terlewati sudah, pagi berarti semangat baru menyongsong 18 jam kerjanya kembali hadir, pagi berarti satu hari yang melelahkan kembali terlewati. Ya, dia sangat menyukai waktu pagi. Sambil melihatteleconferencenya, menyaksikan sebuah keluarga berhujan kebahagiaan, Rosie-Nathan, dan keempat anaknya yang lincah. Ada Anggrek, Sakura, Jasmine, dan Lili. Mereka hendak merayakan ulang tahun pernikahan ke -13 di Jimbaran, Bali. Betapa bahgianya bukanseharusnya?

Tegar juga ikut bahagia dengan hal itu. Meskipun, ia juga pernah mengalami 5 tahun yang menyedihkan, karena 20 tahun perasaanya pada Rosie seakan-akan sebanding dengan 2 bulan perasaan Nathan pada Rosie. Ya, terlambat. Entah terlambat atau tersalip. Yang pasti, hari ketika Tegar hendak menyatakan perasaannya, ternyata Nathan telah mendahuluinya. Rosie pun menerimanya. Sesak, seketika ia menghilang dari kehidupan Rosie dan Nathan. Ia sadar, Nathan adalah teman terbaiknya, tidak mungkin egois mempertahankan perasaannya. Dan di tahun-tahun kesedihannya itu, dia bertemu dengan Sekar, seorang wanita yang begitu sabar mendengar cerita-cerita Tegar, baik itu yang menyenangkan, maupun yang menyedihkan, Sekar selalu sabar meskipun terselinap harapan untuk selalu berbagi ‘sepanjang usia’. Ya, penantian panjang Sekar pun terwujud. Tegar mulai mencintai Sekar, meskipun dengan ‘pemahaman cinta yang berbeda’. Ia memutuskan untuk menikahi Sekar, sehari setelah hari ulang tahun pernikahan Rosie-Nathan ke-13.

Ya, seharusnya keluarga Rosie-Nathan bahagia. detik-detik kebahagiaan mereka terhapus oleh sebuah Bom yang meledak di lokasi tersebut. Sirna sudah gelak tawa mereka, tepat di ulang tahun pernikahan Rosie-Nathan yang ke – 13. Mengetahui hal tersebut, Tegar segera menuju ke Bali, memastikan bahwa keadaan Rosie dan keluarganyabaik-baik saja. Ya, Rosie dan keempat anaknya memang baik-baik saja. Tapi, Nathan meninggal karena melindungi Lili, bungsunya yang berusia 1,5 tahun.

Pedih. menghadapi masa-masa sulit. Rosie sangat terpukul dengan kejadian itu, membuatnya depresi. Sebagai sahabatnya sejak kecil, tentu Tegar tak bisa tinggal diam. Ia pun menunda pertunangannya dengan Sekar, dan ‘memutuskan’ untuk merawat keempat anak-anak Rosie selama Rosie di rawat dishelter.

Bagaimana dengan Anggrek, Sakura, Jasmine, dan Lili menghadapi hari-harinya? Menghadapi jungkir balik kehidupannya? Menghadapi tersangka bom Jimbaran? Menghadapi ‘Om’, ‘Uncle’, ‘Paman’ Tegarnya?

Bagaimana dengan Lili yang menghadapi trauma yang menyebabkan ia malas tuk berbicara?

Bagaimana dengan Tegar yang harus menunda pertunangannya demi anak-anak Rosie? anak-anak orang yang pernah ia cintai selama 20 tahun?

Bagaimana perasaan Tegar menghadapi kenyataan-kenyataan yang ‘ternyata’ sudah tergilas oleh waktu dan baru diketahuinya?

Bagaimana dengan Sekar yang harus menanti Tegar pulang dari Mataram?

Bagaimana perasaannya ketika ternyata Tegar harus merawat anak-anak orang yang pernah dicintainya , dalam jangka waktu yang lama?

Lalu, jika Rosie sembuh, apakah anak-anak Rosie sanggup kehilangan Tegar?

Apakah Tegar sanggup meninggalkan anak-anak yang baik itu?

Tapi bagaimana dengan Sekar?

Lalu, dari berbagai kesempatan ini, keputusan apa yang Tegar ‘pilih’?

adakah Mawar tumbuh di tegarnya karang?

Ya. Menurut saya, novel ini, mengajarkan kita banyak hal dalam menghadapi ‘kesempatan’ dan menentukan ‘kesempatan’, meskipun pada akhirnya dalam kejadian yang berbeda. Novel ini juga mengajarkan untuk memaafkan tanpa melupakan, namun berdamai dengan takdir. Berdamai. Ya, aku baru menyadari betapa nikmatnya ‘berdamai dengan takdir’. Banyak sekali kejadian-kejadian yang mengharukan, termasuk ketika pemakan Nathan, Sidang tersangka pengeboman, dan tak terhitung kenangan manis yang diukir oleh Tegar bersama Anak-anak Rosie.

Dan yang luar biasa dari novel ini, bahwa sebenarnya mungkin kita sering melewatkan kesempatan yang ada, karena terlalu ‘percaya’ dengan pikiran-pikiran yang kita buat-buat sendiri. Seiring berjalannya waktu, ketika Oma perlahan demi perlahan menceritakan ‘apa yang sebenarnya terjadi dalam pernikahan Rosie’, ‘apa yang Rosie rasakan’, semua itu terasa indah sekaligus menyakitkan bagi Tegar.

Dan bagian-bagian romantis antara Rosie dan Tegar kembali terulang. Bermain di pantai, mencari kodok, tangan menengadah ke atas menyentuh air hujan. Semua kembali terulang. Lebih tepatnya seperti kembali terulang. Kebersamaan dengan Rosie dan keempat anaknya membuat Tegar tak sadar bahwa disana.. ya.. disana.. Sekar masih setia menanti pernikahan mereka.Tidak dapat dipungkiri, Sekar adalah salah satu sosok yang bisa menguatkan Tegar dalam keterpurukannya. Hingga akhirnya Tegar mencintai dan hendak menikahinya. Kenangan-kenangan bersama Sekar pun juga membayang-bayangi pikiran Tegar.

Lalu, keputusan apa yang akan diambil oleh Tegar?

ya, temukan jawabannya di Novel ‘Sunset Bersama Rosie’

Banyak sekali ilmu yang kita peroleh dengan membaca novel ini, ilmu kehidupan. Kekuatan dan ketegaran anak-anak rosie yang harus kehilangan Ayahnya ketika masih kecil, keikhlasan mereka untuk memaafkan dan berdamai, saya belajar dari Anggrek untuk belajar menulis dan melindungi saudara-saudaranya, belajar dari Sakura yang sangat tegas dan kuat menjalani kehidupannya, atau juga Jasmine yang sejak berumur 5 tahun harus mengasuh Lili dengan penuh kasih, selalu mengambil makna positif dari setiap kejadian, dan ketulusannya…Subhanallaah. Banyak sekali bagian novel ini tentang dia yang membuat saya benar-benar terharu. Dan Lili, senyumnya dalam diam, ketenangannya, hmm. Kemudian,  keikhlasan Tegar menjaga dan merawat anak-anak Rosie, juga keikhlasan Sekar dengan segala keputusan Tegar, ya, pentingnya keputusan dalam berbagai kesempatan, dan berujung pada kekuasaan Allaah. Iya, sangat bersyukur bisa diberi kesempatan untuk membaca novel ini. Sungguh menyenangkan bila novel ini bisa difilmkan seperti ‘Negeri 5 Menara’. Dalam benak saya, soundtrack-soundtrack yang bisa digunakan adalah

‘Yesterday Once More(Carpenters)’, ‘Yang Terbaik Bagimu(Ada Band)’, ‘Kau Ubah Hariku (Kahitna), ‘Soulmate (Kahitna)’, dan ‘Damai BersamaMu (Crishye)’.

Hehehe. Mungkinkah Pak Darwis Tere Liye merealisasikannya?🙂

terealisasi atau tidak, yang penting teman-teman membacanya dan mengambil makna di dalamya🙂

Semoga teman-teman diberi kesempatan tuk membaca, aamiin😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s