Uncategorized

ketika memori kita ingin bicara, Avina :)

Bukan untuk memulai

Bukan juga untuk mengakhiri

Hanya sebuah titik titik hitam di atas putih

Berisi ungkapan, perasaan, dan kebanggan yang akan selalu ku kenang bersamamu, Avina Anin Nasia

Mbak Anin, setelah dua tahun menunda untuk memposting ‘sesuatu’ untukmu, adek akan mencoba menulisnya lagi. Sebenarnya, tulisan ini sudah direncanakan sejak april 2010 lalu. Ya, tepat 20 tahun usiamu. Tapi, karena kejadian ‘you know what’ menyebabkan adek ngga bisa memposting tulisan itu.

Kau ingat, 22 tahun lalu, di Kendal. Mama dan Bapak begitu bahagianya dikarunia anak seperti Mbak Anin. Lucu, kalem, sehat. Alhamdulillaah. 2,5 tahun berikutnya, mereka juga bahagia dikaruniai anak keduanya, yang juga sehat.

Entah di hari keberapa adek mulai menyadari keberadaan mbak Anin, dan memanggilmu, “Mbak Anin”

Sebenernya, penasaran juga sih, kapan ya hari pertama adek menyadarimu? Hehehe.

Kita, bersama. Melewati hari demi hari di Tangerang dengan bermain bersama-sama. Masih inget ngga, permainan-permainan yang bisa aku bilang ‘gila’ saat ini? Anak-anak seusia kita main boneka-bonekaan, nah kita kok main ‘Unang-unangan’? Udah gitu adek pula yang harus jadi Unang. Plis, adek masih ketawa kalo inget-inget disuruh jadi Unang. :’D Alhamdulillah ya Mama sama Bapak masih berusaha menormalkan kita dengan membelikan duo boneka Avin sama Alin yang unyu-unyu itu.

Kita mulai sedikit normal dengan mengubah ‘Unang-unang-an’ menjadi ‘Bayi-bayian’. Tapi tetep, adek yang jadi bayinya. Dan masih ingatkah dengan dialog ini

A         : Adek, besok kalo udah besar suaranya harus tetep bayi ya

V         : Iya *dengan suara bayi*

A         : Walaupun udah nikah, suaranya ngga boleh berubah ya?

V         : *mikir* iya.

A         : Beneran lho ya.

V         : sek sek, iki temenan ta??

A         : iyolah

V         : oh yo wes, iyo.

Dampak dari dialog ini adalah suara bayi ini masih membekas sampai sekarang. Hahaha. Bahkan, tiap kali kepulanganmu ke Gresik, kita selalu ‘memainkannya’ bukan? Weekekeke…

Kemudian, beranjak ‘remaja’ , menjadi anak SMP N 1 Gresik. Untuk pertama kalinya adek ngrasa kehilangan mbak Anin. Pagi itu, kelas 4 SD. Adek jalan sendiri ke SD tercinta kita, SD Randuagung II. Iya, berangkat sendiri. Nggak lagi sama Mbak Anin. Mbak Anin yang beranjak remaja, adek yang masih kecil. Bahasan pembicaraan kita yang mulai berbeda. Mulai lebih tertutup, apalagi soal diary. Sedikit kebuka aja, udah bersungut-sungut. Hehehe. Diary Gadis tahun 2007 Mbak Anin sekarang posisinya di adek lho. Hehehe. Dari pada berdebu di lemari, mending jadi salah satu koleksi buku adek di kosan. Hehehe.

Semuanya begitu cepat berlalu bukan? Ya, begitu cepat berlalu. Atau adek yang ngga bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya bersamamu? Entahlah, yang jelas adek kangeeen banget masa-masa itu. Melewati tiap malam bersama-sama. Tidur sama-sama. Berangkat sekolah juga sama-sama (kecuali jaman Mbak Anin SMP), melewati senja bersama juga. Hingga perasaan ‘kehilangan’ itu hadir.

19 Juni 2008, Saat Mbak Anin menjerit bahagia dan sujud syukur karena dinyatakan sebagai mahasiswa FKG UI, saat itu perasaanku campur aduk. Antara bahagia, bangga, dan takut berpisah denganmu, melewati hari-hari tanpa mbak anin di sisi adek. Rasanya, pasti bakal sepi.

Kau tahu, hal yang pernah kutakutkan adalah saat kehilanganmu, padahal jelas-jelas kau nyata terlihat disana, aku takut kehilangan sosok kakak yang begitu menyayangiku, aku takut mendengar kata ‘adekku’ yang terucap dari bibirmu yang bukan hanya untukku lagi.

Iya, adek pernah takut.

Iya, mungkin memang kini Mbak Anin telah menemukan adik-adik yang luar biasa disana. Adik-adik yang juga menyayangi, membanggakanmu, dan juga mendoakanmu. Dan aku disini menemukan mbak-mbak yang juga menyayangi, dan mendoakanku. Tapi semua itu dengan pemahaman yang berbeda. Kau mengerti maksudnya kan, dengan pemahaman yang berbeda. Kau, tetap jadi satu-satu nya kakakku yang paling hebat dan paling tegar. Dan aku tetap jadi satu-satunya adikmu yang kadang-kadang melankolis tapi sanguinis ini. Tidak akan ada yang menggantikan dan tergantikan. Semua memang ada tempat dan posisinya masing-masing.

Mbak Anin masih ingat, hari keberangkatanmu menuju Jakarta, 7 Agustus 2008. Mbak Anin memberikan lambaian tangan itu ke adek, dan malamnya adek menerima sepucuk surat dengan mukenah berwarna putih, yang intinya kau menanti kehadiran adek disana. Iya, terima kasih telah menantiku. Maafkan adek yang tidak bisa menepati janji adek untuk menyusulmu disana. Tidak akan pernah bisa. Maafkan adek.

Lalu, masih ingatkah dengan cerita haru biru perjuanganmu untuk tetap survive di sana? Semua itu sungguh manis bukan untuk diingat-ingat kembali? Perlahan demi perlahan kau ukir prestasimu dengan mengikuti berbagai macam perlombaan, PPSDMS NF, Mahasiswa Berprestasi dan juga K2NUI di Papua. Sungguh terlalu indah untuk dikenang bukan? Yang harus kau pahami dengan baik-baik, dan rasakan dengan sungguh-sungguh. . bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan yang baik seperti Mbak Anin. Lebih dari itu, Mbak Anin telah sukses membuat Mama dan Bapak tersenyum bangga, bahagia, bersyukur memiliki anak seperti Mbak Anin. Mbak Anin sukses mengukir keindahan-keindahan itu. Informasi kedua kalinya ya, bahwa adek duduk diantara Mama dan Bapak saat menyaksikan wisudamu, adek menjadi saksi air mata mereka berdua, binar-binar mata Mama dan Bapak masih membekas jelas di ingatan adek. Bahkan ketika MC wisuda saat itu mengintruksi wisudawan untuk melambaikan tangan kepada orang tua masing-masing, tanga Bapak refleks melambaikan tangannya, walaupun mungkin Bapak masih mencari-cari keberadaanmu saat itu. Ah iya, manis sekali situasi saat itu.

Tersenyumlah seperti ini, yang melihatnya pun akan bahagia

 

Adek masih inget banget pesan Mbak Anin ke adek, untuk berusaha menjadi yang terbaik dimana kita berada. Iya, adek waktu itu udah ngga bisa ngomong apa-apa lagi. Udah netes-netes terus air mata ini. Sepanjang jalan Kosan Mbak Rista menuju stasiun Pondok Cina. Sepanjang gerimis membasahi kacamata kita, menembus relung-relung hati. Saat itu, adek merasakan momen indaah banget, Mbak Anin. Momen yang mungkin ngga semua kakak beradik bisa merasakan. Apakah saat itu Mbak Anin juga merasakannya?

Dan perjalanan Mbak Anin selanjutnya, menjadi Mahasiswa Klinik FKG Universitas Indonesia. Berat? Mungkin. Tapi, dibalik semua itu, Allah telah mengabulkan doa-doamu untuk menjadi makhluk yang kuat menghadapi segala ujian. Mbak Anin, Mama, Bapak, sama adek selalu doakan Mbak Anin dari sini. Mbak Anin masih ingat kan postingan blog di wordpress mbak Anin buat Adek? Masih ingat kan semangat – semangat itu? Iya, ini adalah sebagian kecil dari masa-masa berikutnya yang akan lebih indah dan tentunya lebih berat juga. Jadi, tetaplah bersemangat dan berikhtiar ya. Adek ngga akan nyantumin ayat-ayat itu lagi, karena Mbak Anin jauh lebih paham soal itu🙂 Mari kita bersama-sama menjemput rezeki Allah ya Mbak Anin🙂

Terima kasih telah menjadi teladan yang baik selama ini. Makasih untuk segala kenangan yang udah kita rajut sama-sama tanpa kita sadari. Makasih banget untuk time table dari psikologi UI, bukunya Sallim A. Fillah, jam tangan monol pink, semuanya masih sehat dan akan adek simpan baik-baik. Makasih banget dulu waktu SNMPTN Mbak Anin menyempatkan untuk datang ke Gresik, padahal lagi ujian. Adek mungkin ngga akan bisa balas apa-apa, tapi Allah pasti akan membalas semua kebaikan Mbak Anin. Maafkan adek yang sempat membuatmu bingung setahun lalu. Maafin adek yang ngga berani liat pengumuman PPKB UI dan SNMPTN Undangan, akhirnya harus merepotkan Mbak Anin dan bikin mbak Anin jadi lebih sedih. Maaf, waktu itu memang adek yang megang HP Mama, jadi waktu Mbak Anin sms kalo Mbak Anin bingung banget gimana harus ngomong ke Adek, itu juga adek yang baca. Maaf banget ya Mbak Anin. Akhirnya, SNMPTN adek lihat sendiri kok pengumumannya. Maafkan adek yang selalu mengganggumu dengan keluh kesah dan sebagainya.  Maafkan adek yang belum bisa menjalankan nasihat-nasihatmu sepenuhnya. Maafkan adek yang dulu sering membuatmu ‘mengalah’ oleh pertengkaran-pertengkaran kita, Maafkan adek yang terkadang masih ingin bersamamu melewati malam-malam di kota itu, maafkan adek yang terkadang (bahkan sering) berusaha ingin tahu dengan apa yang terjadi denganmu disana. Maafkan adek juga, kemarin sakit parah jadi Mama ngga sms Mbak Anin di pagi hari. Maafkan adek, belum bisa menjadi adik yang bisa dirindukan, dan maafkan adek yang terlalu mencintaimu

Dan akhirnya…

Selamat Ulang Tahun ke 22, Kakakku, Avina Anin Nasia

Barakallaahu fii umrik..

Semoga Allaah semakin mencurahkan kasih sayang dan keberkahan untukmu dan orang-orang di sekelilingmu,

Semoga engkau menjadi anak yang sholihah, tidak melupakan jasa Mama dan Bapak yang telah membesarkanmu hingga menjadi se’gemilang’ ini

Semoga engkau menjadi wanita sholihah yang selalu menyeimbangkan amalan-amalan dan ibadahmu,

Semoga menjadi dokter gigi yang sholihah,

Semoga dipertemmukan oleh laki-laki yang sholeh dan meneladani Rasulullah,

Semoga engkau selalu jadi wanita yang mencintai dan dicintai

Menuju akhir yang khusnul khotimah

Aamiin, Aamiin, Aamiin, Ya Robbal ‘alamiin

Walaupun hari ini adek tak bisa bersama Mbak Anin

Walaupun tangan ini masih saja tak mampu memelukmu,

Sama seperti foto dibawah ini,

Tanganmu yang memelukku erat,

Tapi, izinkan doa-doa kita yang terucap memeluk satu sama lain

Terbang bersama air mata yang menetes tanpa disadari

Menuju ridho Illahi

Dengan tulus terucap untuk Mbak Anin, Adek mencintaimu karena Allah.

3 thoughts on “ketika memori kita ingin bicara, Avina :)

  1. Blog walking dan baca tulisan ini…. menyentuh sekali :’)
    Tulisan-tulisanmu hidup. Rasanya, saya sebagai pembaca bisa turut merasakan emosi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s