Uncategorized

Kuliah Pagi Ini.. Kuliah Terakhir Bersama Pak Ardi

Pagi ini, aku mengikuti kuliah pertama Teori Psikologi Perkembangan, setelah UTS. Wahh, dosen pengajar kali ini adalah Pak Ardi. Asyiik, gumamku. Topik yang dibahas pada kuliah ini adalah konsep Sosiokultural Vygotsky. Yeah, kurang lebih mengenai pentingnya ZPD (Zona Proximal Development) dan metode Scaffolding. Nah, ZPD ini adalah Zona batas kemampuan anak ketika melakukan proses belajar secara individu hingga melakukan proses belajar dengan bantuan orang lain. Sedangkan, Scaffolding adalah proses memberikan kepada seseorang anak sejumlah besar bantuan selama tahap – tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah ia mampu mengerjakan sendiri. Dalam konsep Vygotsky ini, dapat kita simpulkan bahwa proses belajar dengan bantuan orang lain bisa memberikan hasil yang optimal ketimbang belajar sendiri. Yah, sekilas itu lah yang kudapat ketika kuliah berlangsung.

Kemudian, di akhir-akhir sebelum jam berakhir, dosen saya, Pak Ardi, menceritakan pengalaman-pengalaman yang bisa kubilang ‘konyol’ ketika beberapa hari di Rusia. Kemudian, entah dari mana asal muasalnya, hingga beliau masuk topik dunia musik. Saat itu,sambil mendengarkan beliau, saya sedang tergoda untuk melanjutkan menyelesaikan novel ‘Padang Bulan‘ nya Bang Andrea Hirata, tiba-tiba saya mendengar Pak Ardi bertanya,

“Ya, barangkali kalian tahu Sung Ha Jung?”

Saat itu, sontak aku kaget dan segera melepas novelku, kemudian langsung antusias

“Ya, Pak, Iya, Saya tahu”

*saat itu bisa dibayangkan betapa heningnya seisi kelas, hingga suara jangkrik-jangkrik terdengar, atau desir angin yang menderu…dan berubah menjadi tawa hampir seluruh mahasiswa kelas B Teori Psikologi Perkembangan karena melihat tingkah anehku dan aku satu-satunya yang merespon pertanyaan beliau*

aku salting. malu. nyengir. toleh kanan toleh kiri dan mendapati semua menoleh ka arahku. sayang sekali, tak ada lampu panggung yang menyorotiku saat itu.

“Wah, iya mbak kamu tahu ya? Wah kamu jangan-jangan juga suka Suju, Mbak?” tanya beliau sambil tertawa

“Engga, Pak. Saya ngga suka Suju. Saya suka Sung Ha Jung, permainan gitarnya oke banget

saya menjawab apa adanya.

“Oh ya, memang bagus.”

Kemudian, beliau melanjutkan ceritanya, beliau bercerita bahwa buyutnya adalah seorang pemain bass zaman Belanda. Kakek dan Nenenknya seorang pianis. Kemudian, Ibu dan delapan saudara Ibunya juga seorang pianis. Kakaknya, kini juga seorang pianis. Kakaknya memang mengikuti les piano. Sedangkan, karena suatu kondisi yang menyebabkan beliau tidak mengikuti les piano. Kemudian, ketika kakaknya memainkan sebuah lagu dengan pianonya, entah mengapa beliau tiba-tiba juga bisa merasakan nada-nada yang mengalun, dan bisa menirunya, tanpa membaca notasi. Beliaupun juga jujur di hadapan mahasiswa bahwa beliau tidak bisa membaca notasi sedikitpun. sedikitpun tak bisa tapi bisa memainkan piano, dan juga gitar. Beliau mengungkapkan penyesalannya sambil bergurau

“Kalau saja saya dulu les piano, mungkin saya tidak menjadi dosen, tapi menjadi composer di Indonesian Idol dan menggelar konser-konser seperti Erwin Gutawa begitu.”

Hehehe. sontak mahasiswa tertawa mendengarnya. saya juga sedikit tertawa saat itu. Tapi, saat itu, saya teringat sosok ‘Kang Gun Woo’ dalam ‘Beethoven Virus’ yang tidak bisa membaca not, tapi bisa memainkan piano klasik dengan indahnya. bedanya, itu hanya sebuah drama korea, tapi Pak Ardi nyata. Aku sendiripun bingung ketika memainkan sebuah lagu, dan tiba-tiba sebagian besar dari kawanku meminta menuliskan notasi atau partiturnya. sedangkan, membacanya pun aku tak mampu. Memori-memori di masa lalu juga teringat kembali. Saat SMP dibilang pembohong karena tak percaya dengan pengakuanku yang sangat bodoh dalam membaca notasi, hingga akhirnya mereka merasa bersalah ketika membagikan nilai notasiku yang mendapat nilai 73, sedangkan mayoritas mereka mendapat 85 keatas. Atau kena amuk pelatih paduan suara ketika aku selalu diam dan cenderung menghafal nada ketimbang membaca partitur atau sekdar pura-pura membaca partitur. Dan hari ini, satu lagi aku bertemu dengan dosen muda berbakat semacam Pak Ardi yang senasib denganku, suka musik, tapi tak bisa membaca not. Beliau menyarankan kepada kami semua untuk mengembangkan passion yang dimiliki.

Yah, kuliah tadi pagi sangat berkesan buatku, sekaligus haru biru menyelimuti. Kenapa? Karena tadi pertemuan kuliah terakhir dengan Pak Ardi, setelah ini Beliau akan melanjutkan studi S-3 nya, tentunya di Rusia lagi. Mungkin beliau sudah jatuh cinta ya dengan kenjelimetan bahasa Rusia. Beliau akan kembali 3 tahun lagi. Jika ingin sesuai target, tentunya saat itu aku sudah lulus, aamiin. Yah semoga masih bisa berjumpa di kesempatan lain untuk bisa berdiskusi dengan beliau. suatu saat nanti. Semoga Allaah memudahkan studi Bapak,🙂 aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s