Uncategorized

*Refleksi 5 : Ketika Rencana-Nya Tak Sesuai Harapan, Eotteohge? How? Bagaimana?

 

Memiliki asa dan mimpi akan  selalu indah

Namun ternyata kenyataan tak seindah harapan

Apakah berarti tak seindah dengan harapanku??

Iya. Tak seindah harapanku.

Semua ini lebih indah dari pada harapanku

 

Pernah merasakan kesedihan mendalam? Mendalam? Dan begitu mendalamnya? Entah. Dalamnya seberapa. Yang pasti, ketika kekecewaan dan perasaan gagal menyelimuti hati kita? Mungkin pernah. Saya juga pernah. Ketika dalam satu episode kehidupan dimana saya harus merasa gagal dan hampir tidak ada semangat.

Lalu? Apa yang harus saya lakukan saat itu? Seharusnya ya ikhlas, menerima keadaan, dan tersenyum. Seharusnya kan? Kenyataannya untuk mengembalikan titik terendah semangat kita, tidak mudah untuk mengembalikan 180 derajat. Bukan berarti tidak mungkin. Saya sendiri termasuk manusia yang membutuhkan sebuah proses untuk menuju suatu titik dan kembali dalam proses.

Segala sesuatu yang baik datangnya dari Allah, dan segala sesuatu yang buruk datangnya dari diri kita sendiri

Saya harus mempertanggungjawabkan apa yang telah saya lakukan. Bagaimana? Saya saat itu tidak tahu harus bagaimana. Sempat diam beberapa waktu. Yang saya tahu dan saya yakini adalah Allah, Sang Maha Membolak Balikkan hati ini tidak akan mengubah nasib hamba-Nya, tanpa adanya sebuah perjuangan yang dilakukan hamba-Nya

Baik. Saya harus melakukan sesuatu. Disamping terus mengucap hamdalah dan tiada meninggalkan ibadah, ada satu hal lagi yang harus saya lakukan. saya memaksakan.

Iya, saya memaksakan untuk menghapus perasaan sedih itu.

Saya memaksakan diri untuk membuang jauh-jauh perasaan negatif yang kadang terlintas dan masuk tanpa diundang

Saya memaksakan diri untuk tersenyum dan bertahan walau sesekali dalam malam-malam itu air mata tumpah dalam kondisi yang begitu menyesakkan.

Saya memaksakan tertawa ketika sebuah stimulus-stimulus yang menyakitkan hadir, hadir, dan terus hadir..

Iya, ternyata saya memaksakan..

Saya memaksakan untuk melakukannya, karena saya tahu tindakan itu tindakan yang seharusnya saya lakukan. Saya tahu, bahwa secara normatif, tindakan saya = benar. Dan itu untuk kebaikan saya, terutama kebaikan kedua orang tua saya saat itu.

Saya memaksakan untuk melakukannya berusaha dengan sepenuh hati. Dengan sepenuh hati. Saya sendiri tak bisa mengatakan tindakan saya ini termasuk bagian dari keikhlasan atau bukan, yang pasti saya berusaha. Saya berusaha untuk melawan segala bentuk pikiran negatif dan keputusasaan yang terus menekan saya pada saat itu.

Memaksakan tidak sama dengan terpaksa

Itu yang saya yakini sejak dulu, hingga saat ini, dan seterusnya.

Saya tidak terpaksa memaksakan diri saya untuk kuat, tegar, dan bangkit dari keterpurukan itu.

Saya yakin, saat itu (saat yang berat bagi saya),  Allah sedang menguji saya. Seberapa bertahankah saya dengan ujian kecil ini. Saya katakan ini ujian kecil, karena saya sadar diri, di luar sana, di belahan dunia yang lain, bahkan mungkin tetangga saya, sedang mengalami ujian yang lebih, lebih, lebih berat. Seberapa sabar kah? ? ?

Bersabarlah dalam menunggu ketentuan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan-Ku (QS 52 : 48)

Percaya atau tidak percaya, memaksakan diri dengan selalu bersyukur dan ikhtiar adalah sebuah proses yang pernah terjadi dalam diri saya menuju sebuah kebahagiaan. Sebuah kenikmatan warna warni kehidupan dunia.  Dorongan dari dalam diri seseorang untuk berubah itu perlu. Maka,  Nabi saw. mengajarkan kita untuk berdoa:

“Ya Allah, aku berlindungan kepadaMu dari rasa sesak dada dan gelisah, dan aku berlindung kepadaMu dari kelemahan dan kemalasan, aku berlindung kepadaMu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepadaMu dari dilingkupi utang dan dominasi manusia.”

 

Masih ingat dengan  pertanyaan saya yang diatas tadi? Masih lah ya. Hehe.

Apakah benar semua ini tak seindah dengan harapanku??

YA. TIDAK SEINDAH DENGAN HARAPAN SAYA. Tapi Allah menyusun rencana yang JAUH LEBIH INDAH dari sebuah harapan kecil itu. Ada suatu masa dimana kita akan berkata, “Alhamdulillaah, ternyata Allah memberikan semua ini.. karena pada akhirnya akan seperti ini. Jika Allah menuruti egoku dengan harapan-harapan yang katanya sangat kuinginkan dulu, belum tentu semua ini bisa kudapatkan”

 

Lalu apa tujuan Allah memberikan semua ini padaku?


Allah itu Maha Adil. Allah tidak memberikan kita sebuah kemudahan saja atau kesulitan saja. Dengan memberikan kita sebuah ujian, tentunya kita semakin sadar akan Dzat  Yang Maha Adil. Allah mengizinkan kita merasakan kesulitan diiringi kemudahan agar kita menjadi makhluk yang kuat, pantang menyerah, dan bersyukur.

Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al Insyirah : 6)

Rasulullah saw bersabda:

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada Mukmin yang lemah. Segala sesuatunya lebih baik. Tampakanlah terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu dan minta tolonglah kepada Allah dan janganlah engkau menjadi tak berdaya.” (H.R. Muslim)

Siapa yang akan tahu hari esok, sayang?

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al-Baqarah : 216)

Kita tidak pernah mengerti akan hari esok. Bahkan sedetik setelah saya selesai menulis ini saya pun tak tahu. Maka, mari kita sama-sama berpikir positif dengan apa yang terjadi pada episode kehidupan kita saat ini, karena Allah mengikuti perasaan hambaNya.

Bila kita kembali merefleksikan diri, pernahkah kita membayar untuk setiap tarikan dan hembusan nafas yang diberikan oleh Allah? Bukankah itu karunia yang luar biasa bukan? Mari bersyukur atas hal-hal yang dianggap sangat kecil padahal luar biasa. Menikmati setiap tarikan dan hembusan nafas yang kesemua itu terdapat Rahasia yang Allah selipkan diantaranya. Bukankah sangat menyenangkan bila kita bisa menikmati sebuah proses rahasia ini menjadi sebuah kejutan yang indah pada waktunya?🙂

 

Semoga kita semua selalu kuat dan semakin membulatkan tekad untuk ikhtiar, serta berpikir positif dalam menghadapi lika-liku warna warni pelangi kehidupan yang Allah anugerahkan pada kita. Dengan sabar menanti jawaban demi jawaban Allah yang akan selalu indah pada waktunya

Aamiin

 

 

Muhasabah Cinta- Edcoustic

Wahai… Pemilik nyawaku
Betapa lemah diriku ini
Berat ujian dariMu
Kupasrahkan semua padaMu

Tuhan… Baru ku sadar
Indah nikmat sehat itu
Tak pandai aku bersyukur
Kini kuharapkan cintaMu

Kata-kata cinta terucap indah
Mengalun berzikir di kidung doaku
Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku
Butir-butir cinta air mataku
Teringat semua yang Kau beri untukku
Ampuni khilaf dan salah selama ini
Ya ilahi….
Muhasabah cintaku…

Tuhan… Kuatkan aku
Lindungiku dari putus asa
Jika ku harus mati
Pertemukan aku denganMu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s