Uncategorized

Rangkaian Waktu Bersama Mama :’)

 2 Juni 2012

Duhai ibunda, dengarkan doa
Putrimu yang kini jauh dari sisimu
Tunaikan pesan, genggam harapan
Ukir senyum bahagia di wajah ibunda

Kesabaranmu, asuh imanku

Lembut tuturmu bagai udara jiwaku
Air matamu, biaskan rindu
Sujudmu penuh lautan doa untukku

Atas hari yang lelah
Dan malampun kau terjaga untukku
Oh ibu
Kasih Allah, semoga tercurah untukmu
Tuk pengabdian yang kau persembahkan selalu
Didik diriku tuk fahami nilai keikhlasan

-Untukmu Bunda-Gradasi-

Mama,

Satu kata, satu panggilan yang saya sendiri akan kebingungan menuliskan deskripsi yang tepat untuk penggambaran seorang ‘Mama’

Mama,

Yang selalu dipanggil ‘Mama’ oleh anak-anaknya, dan membahasakan dirinya dengan panggilan ‘Ibu’

Tak perlu diragukan, sekaligus tak mampu dideskripsikan..

Bagaimana Mama kami sejak dalam kandungan..

Merawat kami,

Juga membesarkan Mbak Anin dan adek dengan penuh kasih sayang..

Selalu ikhlas mendoakan dua buah titipan Allah..

24 April 1990, Setelah sembilan bulan berada dalam kandungan Mama, akhirnya lahirlah anak pertama Mama, Avina Anin Nasia. Betapa bangganya Mama mengalami pengalaman pertama mengandung dan melahirkan. Tapi, adek masih ingat cerita Mama  kalau masih takut ketika hendak memandikan Mbak Anin, karena takut menyakiti Mbak Anin. Akhirnya, Uti menemani Mama memandikan Mbak Anin. Hingga kini fotonya masih ada. Betapa terlihat bahagianya Mama. Memiliki anak pertama sekeren Avina Anin Nasia.

Ketika awal Januari 1992, Engkau dinyatakan hamil kembali. dan 27 Oktober 1992 lahirlah anak kedua Mama, Valina Khiarin Nisa. iya, Adek, Ma.

Mama, Adek ingat ketika pertama kali masuk TK nol kecil, di sebuah TK Islam di Tangerang. Adek ingat adek ngga pingin Mama nganter adek. Adek pingin berangkat sendiri, sampai hambir tertabrak Vespa. Adek ingat, betapa bingungnya Mama ketika tiba-tiba adek ngga mau melanjutkan sekolah karena cubitan seorang kawan yang membuat tangan adek berdarah.

Kepindahan kita sekeluarga ke Kendal ngga memindahkan perasaan takut adek untuk kembali ke sekolah. Adek inget hari pertama masuk TK Aisyiyah, Mama nemenin adek di ruangan itu. Saat itu di pikiran adek cuma satu, Mama pasti kecewa sama adek. Mama pasti malu punya anak kaya adek. Tapi apa yang terjadi? Saat pulang ke rumah, mama masih mengajak adek makan, dan menyediakan teh hangat buat adek. Mama juga masih menyiapkan buku gambar untuk adek mewarnainya.

Ah iya, Maa.. itu sudah terlampau jauh ya, Mama :”)

Memasuki kota Gresik, adek melanjutkan ke TK Bakti 3, Randuagung, adek sudah melupakan masa-masa suram itu, dan adek jadi anak yang cukup ceria, walaupun tetap penakut. Adek inget, Mama menitikkan air mata waktu membukakan pintu adek yang habis pulang dari RRI Surabaya, hanya karena adek nyanyi di penutupan sebuah acara anak-anak itu.

Adek juga inget, betapa bangganya Mama saat adek nyanyi di perpisahan TK. Adek saat itu cantik sekali, Ma. Bukan karena adek, tapi karena adek pakai kerudung coklat jahitan Mama.

Menjadi anak kelas 1 SD. Menjadi anak yang lebih ceria dan mengurangi ketakutan. Berangkat sekolah bersama Mbak Anin. Adek ngga pernah mau diantar Mama, bukan karena apa-apa. Adek hanya membuktikan pada Mama kalau adek udah ngga takut lagi ke sekolah sendirian.  Saat itu, adek masuk sekolah negeri, bukan sekolah Islam. tapi, mama membelikan adek sama mbak Anin kerudung putih yang indah dan panjang. Mama memakaikannya ke Adek. Adek ingat sekali, adek pernah tanya sama Mama,

“Mama, temen-temen adek ngga ada yang pakai kerudung. Kok adek harus pake kerudung”

“Biar cantik kaya Ibu. Ibu kan pake kerudung, adek sama Mbak Anin juga harus pake kerudung biar kelihatan lebih cantik”

Dan adek percaya sama kata-kata Mama, adek kelihatan lebih cantik pakai kerudung. Saat itu, adek belum tahu, betapa pentingnya berjilbab bagi seorang wanita. Yang adek tahu, adek lihat, dan adek rasakan, perkataan Mama emang bener. Seseorang terlihat lebih cantilk ketika berjilbab. :’)

Masa-masa SMP, ketika adek dinyatakan bukan anak kecil lagi, ketika Mama mulai mengajarkan adek tentang fiqh Islam. Ketika Mama mulai menyadarkan adek untuk menjaga hubungan dengan laki-laki. Ketika Mama mulai khawatir kalau adek salah pergaulan…

Dan ketika adek selalu merasa jadi anak kecil, karena saat itu, anak-anak seusia adek sudah bisa naik sepeda motor, ketika mereka mulai berpacaran, dan adek masih tetap single, sekalipun mungkin pernah merasakan suka kepada lawan jenis…

Adek masih inget waktu dinyatakan sebagai Siswa Teladan 2007 dan dinyatakan bebas tes masuk SMA N 1 Gresik, Mama seneeng bukan main.

Dan adek juga inget ketika beberapa hari sebelum Unas SMP, tiba-tiba ada perubahan peraturan, membuat tiket Bebas Tes masuk SMA N 1 Gresik dihanguskan, Adek sedih, kepikiran, dan dinyatakan sakit gejala tifus, semalam sebelum Unas. Mama berusaha menguatkan adek,

“Adek, adek kan sudah belajar selama tiga tahun, ngga usah mikir aneh-aneh, kerjakan semampunya saja. Ibu yakin, Adek insya Allaah lulus. soal tes SMA, ngga apa-apa, ngga masuk SMANSA ngga apa-apa, SMA Muhammadiyah juga bagus kok dek, nanti kita daftar sama-sama. Tapi, Ibu yakin, adek bisa mengerjakan Unas dan tesnya.”

Ketika Mbak Anin dinyatakan menjadi Mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, ketika adek dinyatakan lulus di SMA N 1 Gresik, kita pelukan bertiga, kita seakan-akan menjadi trio yang seumuran, sambil bermimpi masing-masing mengenai harapan masing-masing

Dan ketika masa SMA…

Masa-masa labil adek mengenal sebuah ‘cinta’ di pemaknaan yang lain…

Ketika Mama sering memperhatikan adek lewat sms-sms yang masuk…

Dan ketika adek mulai merasa diawasi…

Dan ketika adek tidak menceritakan perasaan ini ke Mama…

Dan ketika Mama bercerita tentang “Kriteria Laki-Laki yang Baik”

Lalu adek selalu merefleksikan setiap orang yang sedang dekat dengan adek. Jujur, Mama memang ngga pernah melarang adek untuk berhubungan khusus dengan siapapun, tapi secara ngga langsung, Mama telah mencurahkan harapan-harapan itu, dan adek berusaha mewujudkan mimpi Mama, dan adek punya satu janji, di bulan April 2009

Ketika adek gagal berkali-kali masuk PTN, Mama yang benar-benar mengerti kondisi adek saat itu. Selain malam demi malam Mama selalu berdoa untuk Mbak Anin dan Adek, Semangat dan motivasi dari Mama, selalu adek ingat, Ma.  Sampai perjuangan di SNMPTN Tulis, dan Allah menggariskan jalan adek jadi Mahasiswa Psikologi Universitas Airlangga,Mama kembali bercerita, kalau Mama sebenarnya ingin sekali masuk Psikologi Unair ketika lulus SMA, tapi tidak mendapat izin Uti, jadi Mama UMPTN dan diterima di IPB. (Saat itu, kita ngga pernah tahu apa dibalik Rencana Allah, ternyata di IPB lah Mama berjumpa bidadara romantis nan alim, Kotot Basuki Rahmad Hadi Warsito, tak lain tak bukan adalah Bapak :’), cowok kece kita bertiga. Hehehe.

Mama selalu bilang kalau Mutiara di dasar lumpur tetaplah akan menjadi Mutiara yang bersinar cemerlang. Dan berusaha meyakinkan adek, kalau Mbak Anin dan Adek adalah mutiara-mutiara itu. :”) ah, mau nangis rasanya tiap kali ingat bahwa adek belum bisa melakukan apa-apa untuk membahagiakan Mama. Kemarin, februari, adek melihat air mata bahagia Mama ketika Mbak Anin wisuda. aaa… semoga adek bisa membuat Mama bahagia saat wisuda adek nanti, dan tidak hanya itu tentunya🙂

Mama,

Sosok yang selalu takut ketika anak-anaknya tidak tepat waktu dalam membalas SMSnya..

Sosok yang superkhawatir dan tidak berhenti menelepon sampai anak-anaknya mengangkat telepon..

Sosok yang lebih bahagia ketika mendapati anak-anaknya sedang bahagia..

Juga sosok yang lebih hancur dan menderita ketika menyaksikan kesedihan anak-anaknya..

Mama, bukan sarjana psikologi,

Tapi Mama psikolog buat Mbak Anin dan adek, :’)

Mama, telah menjadi suri tauladan sebagai Muslimah, Ibu, dan Istri🙂

Mama, yang selalu menasehati adek soal keabadian dan ketidak abadian..

Mama, yang selalu mengingatkan untuk selalu berpikir positif terhadap Rencana Allah..

Selalu mengingatkan untuk mencintai Allah sepanjang waktu.. : )

Mama,

Kalau adek harus menulis cerita tentang kebersamaan kita, tak akan ada habisnya.

Sungguh tak akan ada habisnya…

Terlalu banyak kenangan manis yang tak mampu terucap,

Atau bahkan drangkai menjadi kata-kata..

Dan tak ada kata-kata indah yang adek persembahkan..

Kecuali jika rangkaian waktu masih menjadi anugerah Allah, tentu Mbak Anin dan Adek akan terus berusaha menjadi anak – anak Mama yang sholihah…

Mamaah :’)
Semoga usia 48 tahun yang masih barokah

Semakin lembut, tetap menjadi istri dan ibu yang sholihah

Di kehidupan mendatang,

Adek ingin menjadi anak Mama lagi🙂

Semoga, kita sama-sama menjalin kasih, selalu memperbaiki, dan memanen hasilnya di JannahNya, aamiin

Adek sayaang Mama🙂

3 thoughts on “Rangkaian Waktu Bersama Mama :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s