Uncategorized

Bromo, Aku Tetap Rindu Padamu :)

 

Assalamu’alaikum..

Wah tumblr saya berdebu, ada laba-laba seliweran. Sudah lama tak bercerita ya. Baru nyadar. Sudah lama sekali. Baiklah, first posting after long time no see on tumblr is my vacation with my beloved friends at Bromo Mountain. Alhamdulillah, Allah give me second occasion to go there again. Fix pergi ke Bromo tanggal 4-5 Juli 2012🙂 Seneng banget bisa pergi kesana, dengan mereka, para jomblowers hahaha. Sahabat-sahabat luar biasa di kuliah tahun pertama ini, Wanda, Yanda, Dhai, Tami, Rara, Hani, Nisa, dan Lulus. Berbagai cobaan melanda, dengan mundurnya beberapa anak karena ada kepentingan lain, tak menggoyahkan semangat kami untuk tetap rihlah kesana😀

Perjalanan yang menyenangkan, duduk di samping Wanda. Jelas bisa dibayangkan betapa konyol dua setengah jam bersama makhluk jenaka ini. Bahkan, jujur saya takut untuk memejamkan mata karena takut difoto olehnya.

Sesampai di terminal Banyu Angga, Probolinggo, kami beristirahat untuk sholat dan makan siang, sekaligus menunggu Lulus yang menuju Probolinggo dari Jember. Harapan saya adalah bisa membawa gitar ke Bromo, tapi bawaan sudah seperti orang pindahan, alhasil, saya tinggal gitar di ruang tamu. Hfff. Tapi alhamdulillaah, di kantin terminal kami mendapat pinjaman gitar, dan akhirnya kami bisa bernyanyi bersama teman-teman. Maunya sih kupluk ini saya letakkan di bawah, hehehe.

image

ini saya yang moto looh ~ *penting

Perjalanan lanjut ke Homestay. Perjalanan yang membutuhkan waktu dua jam ini, kami melihat pemandangan yang super indah. Subhanallaah. Salah satunya melihat pemandangan ini. Sebuah masjid mungil berdiri kokoh di dataran tinggi ini. So sweet kan?

image

Sesampai di homestay (tentunya setelah melakukan penawaran dengan sopir hard top :p), teman-teman segera melaksanakan ibadah thaharah, alias mandi dan membersihkan diri dari segala najis. Saya mendaftarkan diri menjadi giliran terakhir, bukan tanpa sebab, melainkan saat itu menjadi salah satu skenario untuk ngerjain salah satu sahabat, Uswatun Dwi Utami yang berulang tahun di 2 Juli kemarin. Akhirnya, maghrib tiba, teman-teman segera melaksanakan sholat maghrib berjamaah dan saya yang kebetulan sedang berhalangan sholat segera melucur ke kamar mandi :p sebenernya salah satu alasan mandi terakhir adalah agar bisa lebih lama (dikit) dari yang lain. Hahaha. Walaupun adem benar rupanya.

Seneng banget punya sahabat-sahabat seperti mereka, yang tak lupa tilawah ketika ba’da maghrib, meskipun sedang melaksanankan rekreasi.

image

Ketika mereka melaksanakan sholat isya’ berjamaah, saya pun memikirkan ide bagaimana membuat Tami (aka Uswatun Dwi Utami) menangis. Sepanjang saya mengenal gadis kalem asli Bantul ini, saya tidak pernah marah ataupun hanya sekedar kecewa dengan makhluk ini. Hebat kan? Hebat dianya, bukan saya. Hahaha. Dan saat itu, saya harus pura-pura marah. Oh sanggupkah?

Setelah sholat isya, saya menarik Dhai menuju kamar pojok sembari mempersiapkan brownies. Kemudian, aktingpun dimulai!

V : Duuuh, perut sakit nih, gara-gara mandi kemalaman. Tadi mandinya mulai lama tuh dari Tami, akhire ke belakang molor semua. Pake acara kelaparan lagi, akhirnya aku mandi jam setengah tujuh malem. Tega reek, kalian. Tami sih tadi bikin semuanya ikut-ikutan ngaret!

T: Lho, gara-gara aku ya? Maaf ya Valin. Sekarang perutnya sakit? Sakitnya gimana Valin? Mungkin karena pengaruh berhalangan juga.

V : Ya engga tahu, pokoknya sakit perut, tami sih mandinya lama (sebenernya udah kehabisan kata-kata karena speechless lihat wajah Tami yang super panik dan kedipan-kedipan matanya yang bikin meleleh itu. Hahaha)

T : Terus gimana Valin? Pake minyak kayu putih ya? Aku ambilin ya?

V : Nggak . Nggak usah!

JLEB! Mati lampu. Teriakan teman-teman membuat saya ikut-ikutan panik dan bangkit dari kubur, eh dari lantai maksudnya, setengah lupa kalau lagi akting sakit perut. Melihat Tami menoleh pada saya, langsung melongo deh, bingung harus mengatur ekspresi orang sakit perut sekaligus panik kenapa lampunya mati. Sedangkan Dhaifina malah asyik-asyiknya menyalakan lilin di atas brownies (sehingga kamar pojok nampak terang) dan mengira bahwa lampu mati adalah salah satu sandiwara. Tak lama kemudian lampu nyala kembali, alhamdulillaah. Tapi, seharusnya kue itu lebih so sweet muncul saat lampu mati ya? Ya sudahlah, akhirnya saya berjuang akting kesakitan walau ngga bakat, di dukung oleh akting kepanikan teman-teman yang lainnya, Dhaifina keluar membawa kue dan berdiri di belakang Tami, Tami yang sudah mulai kepanikan dan mengernyitkan dahi (sepengetahuanku, dia mengernyitkan dahi hanya saat menerima kuliah Sejarah Aliran Psikologi), kami semua menyanyikan lagu “Happy Birthday Tami” lalala~

Tami kaget dan seketika matanya berkaca-kaca. Yeah, SUKSES!😀

image

Setelah berdoa,akhirnya kami berfoto bergiliran dengan si artis, dengan adegan disuapin kue sama Kanjeng Tami. Hahaha. Acara dilanjutkan dengan bermain “ceblak nyamuk”😀. Yeah, saya sangat tak pandai dalam bermain kartu.  Macam ikal kala bermain catur hehehe. Maklum , agak lola. Tapi, alhamdulillah sih tidak sampai kalah😀

Hari telah larut malam, akhirnya kami memutuskan untuk tidur. Kalau saya sih tanpa mengambil keputusan yah, karena sudah tertidur di area permainan kartu. Hahaha. Saya pindah ke kamar pojok bersama Dhai dan Tami. Kami ini bagaikan Bantal, Guling, dan Kasur. Hahaha. Sebelum tidurpun saya mendengar dongeng romantis dari Kanjeng Tami, bahwa sang Adik, Bang Thoyyib, yang duduk di kelas 5 SD sedang mengalami fase cinta monyet, dan salah kirim SMS ke tantenya. Alhasil saya tertawa lebih dari satu menit. Ketawa yang awet banget, apalagi kalau ditambah pengawet. Tak lama kemudian, saya dan Dhai tidur-tidur ayam. Sedangkan Tami, menurut pengakuannya, Ia tak bisa tidur. Maaf ya Kanjeng Tami. Jangan-jangan kerana tak kebagian tempat. Tempatnya sudah habis kupakai bersama Dhai. Nyuwun pangapura, Kanjeng Tami T.T

Saya pun terbangun secara mendadak pukul 2.30 pagi. Mendengar kawan-kawan masih ada yang asyik berbincang. Weew, sudah saya duga, pasti salah satu diantara mereka adalah Wanda, baterai yang selalu full nih anak.

“Rek, setengah tiga. Jam setengah empat semuanya harus sudah siap. Ayo tangi reek, sing arep sholat ndang sholat.” Macam orang ronda nih saya.

Teman-teman bergantian ke kamar mandi dan melaksanakan sholat tahajjud. Pukul empat, kami semua segera berangkat menuju penanjakan menggunakan Hard Top. Sesampai di parkiran penanjakan, saya masih tertawa-tawa dan berfoto bersama dengan teman-teman.

image

Kemudian, setelah mendaki agak jauh, saya merasakan hawa yang sangat dingin, dan untuk bernafas pun udaranya begitu menusuk. Ditambah sakit perut luar biasa *akibat bulanan* dan sakit perut yang kalau orang jawa bilang sundu’en. Agak gemetar untuk melanjutkan ke atas. Penanjakan kali ini beda dengan penanjakan yang pernah saya kunjungi bersama mbak Anin dan kawan-kawan. Tak ada senter pinjaman, tak ada jaket pinjaman. Begitu dingin! Dhaifina memegangi saya dengan erat, sesekali saya terdiam karena benar-benar tidak kuat. Kalau saja yang memegangi saya waktu itu Kanjeng Tami, mungkin sudah tertarik kembali ke bawah. Hehehehe.

Hingga jarak kurang lebih 100 meter dari penanjakan, saya sudah tidak kuat lagi dan tiba-tiba saja meneteskan air mata. Padahal ngga niat nangis lho T.T Tapi, alhamdulillah, berkat air mata itu, saya merasa wajah saya hangat dan lebih kuat untuk melanjutkan perjalanan menuju penanjakan. Maafkan saya ya teman-teman yang membuat ricuh karena sakit perut dan sesak nafas. Diluar dugaan, saya pikir vonis asma dari dokter hanya sekadar vonis, ternyata sungguhan. Hehehehe.

Sampailah kami pada penanjakan, saya duduk di sebuah bangku panjang sambil menjaga tas teman-teman, dan mereka melaksanakan sholat shubuh berjamaah. Antara setengah kedinginan sambil mencoba menikmati pemandangan sunrise yang mulai muncul. Setelah sholat berjamaah, kami bersama-sama menikmati sunrise yang begitu indahnya, Subhanallah, sambil berfoto-foto tentunya. Saya, segera mengeluarkan selembar HVS, dan mencari-cari bolpoin. Astaghfirullaah, bolpoin ketinggalan di meja ruang tamu, alhamdulillah dapar pinjaman dari Wanda (sampai sekarang bolpoinnya masih di saya), segera menulis sebuah nama dan (seakan-akan) berfoto bersama di sunrise. Baiklah, baiklah. Seakan-akan : )

image

image

Perjalanan kedua, kami segera menuruni penanjakan, dan nampak sekali perubahan pada diri saya. Sakit perut hilang setelah minum obat, hehehe. Saya sudah kembali ceria dengan tingkah laku saya biasanya, tentunya dengan godaan dari teman-teman

“Yeee, yang tadi nya ngga kuat, ngga kuat, sekarang udah cerewet dan udah mulai nge-bully

Perjalanan selanjutnya, ke airberbisik. Eh salah, pasir berbisik. Kalau air berbisik mah akun twitter salah sat dosen terbaik saya. Hehehe. Di pasir berbisik ini, pasirnya benar-benar berbisik, tidak berteriak seperti januari lalu. Hehehe. Saya mengukir beberapa nama sahabat-sahabat terbaik saya. ^^

image

Perjalanan ketiga, ke Bukit Teletabbies. Yeah. Disana bukitnya unyu-unyu. Berupa gundukan-gundukan unyu yang dihiasi dengan ilalang-ilalang. Disana, kami berjumpa dengan rombongan Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair yang ternyata juga sedang melaksanakan KKN di Probolinggo, sekaligus berlibur ke Bromo. Seperti biasanya, kami kembali berfoto-foto, sambil menikmati indahnya pemandangan yang tak mungkin didapati di padatnya Surabaya. Hehehehe.

image

image

image

Perjalanan terakhir adalah menuju Puncak Bromo. Perjalanan yang agak jauh dan membutuhkan banyak tenaga untuk bisa sampai puncak. Saya berjalan bergandengan bersama Dhaifina dan Kanjeng Tami. Semacam Kasur Bantal GulIng berjalan bersama-sama. Hehehe. Di tiga perempat perjalanan, saya membeli beberapa edelweiss, pesanan dari mbak Anin, dan juga seorang sahabat yang bercanda meminta foto edelweiss. tapi sayangnya, saya tak pernah bercanda menanggapinya. Hehehe.

image

image

image

*yap, sensor ya🙂

Sampai pada tangga menuju puncak, ternyata tangga bagian kiri penuh dengan pasir. Sementara tangga sebelah kanan digunakan untuk turun dari puncak. Jadi, agak setengah merangkak untuk beberapa puluh tangga. Selanjutnya, alhamdulillaah bisa menaiki tangga secara normal. Setiba di puncak, saya segera duduk dan mengambil botol berisi air dari dalam tas saya. Menikmati kawah bromo yang berasap, dan semilir angin berhembus. Subhanallaah. Tidak pernah bosan untuk kembali kesana lagi. Di puncak itu juga, akhirnya sempat berpelukan dengan Tami dan Dhai, Hehehehe. Berfoto bersama, dan mengambil selembar kertas bertuliskan nama seorang sahabat untuk saya ajak foto bersama lagi. Hehehe.

Kami kembali menuruni puncak dengan rasa ingin kembali kesana lagi. Hehe. Pukul 11 siang kami sampai di homestay, dan kembali bersuci.  Kami kembali ke Surabaya pukul 13.30 

Alhamdulillaah,

Terimakasih kawan untuk rangkaian kenangan yang telah kita  rajut di kesempatan ini,

Terima kasih untuk canda tawa dan air mata yang datang silih berganti,

Terima kasih untuk pengertian dengan ketegasan yang akan  kurindukan,

🙂

Alhamdulillaah,

Terimakasih atas kebesaran-Mu menciptakan indahnya Bromo,

Semoga suatu saat bisa kembali menikmati keindahan ciptaan-Mu, aamiin🙂

dan kau, Bromo… aku tetap merindukanmu🙂

merindukan kenangan bersama Mbak Anin dan kawan-kawan

merindukan kebersamaan bersama jomblowers..

🙂

image

demikian surat cinta kabar dari Bromo,

sampai jumpa di edisi berikutnya🙂

wassalamu’alaikum🙂

One thought on “Bromo, Aku Tetap Rindu Padamu :)

  1. kapan2 ke kawah ijen, lin🙂 backpacking-an kesana, tapi agak jauh sih .. hehehe😀 btw, nice trip! semoga suatu saat bisa ke bromo kayak kalian :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s