Uncategorized

Berbagi Impian #3

ditulis di http://valinakhiarinnisa.tumblr.com/post/58602669912/antara-foto-kenangan-dan-impian :) Termasuk Rangkaian Kenangan dan Impian🙂

Mengenang masa kecil, tidak jauh-jauh dari Batan Indah, Tangerang dan seisinya. Disanalah, sebuah karakter terbentuk. Disana, mbak dan saya melewati masa kanak-kanak. Sejak usia 2 bulan, saya sudah meninggalkan tanah kelahiran saya, Padang, pindah menuju Tangerang. Melalui masa kanak-kanak yang sangat damai disana, atau mungkin belum menyadari hiruk-pikuk krisis moneter yang terjadi di periode 1992-1998. Ya, namanya juga anak-anak. Punya hobi jalan-jalan, uleg-ulegmenggunakan batu (pantaslah hingga kini saya suka sekali yang namanya nyambel), mengikuti apa yang dilakukan, sama satu hal lagi yang paling merepotkan, selalu tidak mau pulang ke rumah kalau sudah main ke rumah Budhe Sus, main-main bersama dua sepupu saya yang baik hati, mas Aji dan mas Adit.

Adapun, masa kanak-kanak, merekam suara bersama mbak Anin, rebutan microphone, nyanyi-nyanyi, dan menikmati hujan. Ah, setiap hujan datang, sering sekali lampu mati. Biasanya kami membuka pintu rumah, dan menikmati hujan. Bapak mengambil gitar, dan mengajak menyanyi bersama. Ibu, yang selalu membahasakan diri beliau “Ibu” tapi terlanjur kupanggil Mama, membuatkan teh hangat dengan cangkir hitam-putih yang masih ada sampai saat ini. Melihat Mbak Anin membaca majalah Bobo. saya hanya melihat gambar-gambarnya saja, belajar mengaji dipangku Bapak, salah berkali-kali, tapi itulah, namanya belajar. Terima kasih Bapak, yang mengajarkan mengaji lewat berbagai cara, diantaranya memberikan teladan mengaji setelah shubuh dan maghrib, selalu rajin mengajak belajar mengaji, membelikan kaset-kaset lagu-lagu Islami yang secara tidak langsung mengarahkan saya untuk mengaji, dan juga suka menyanyi :p. 

Mendengarkan cerita Mama dan Bapak selalu menyenangkan, mulai dari hal-hal yang tidak mampu saya ingat, samar-samar teringat, hingga yang benar-benar teringat dengan jelas. Kata Mama, tangan kiri saya pernah patah karena saya naik kursi dan hampir terjatuh, kemudian Ibu saya menahan tangan saya terlalu kencang, hohoho. Dibawalah saya bersama Budhe Sus dan Pakdhe Eko ke Sangkal Putung. Kata Mama, saya sejak kecil selalu tenang ketika dipijat (tapi sekarang hobi memijat), :p dan sering sekali memegang wajah Ibu saya ketika menjelang shubuh. Selain itu, kata Ibu saya, saya suka bersenandung meskipun tidak tahu kata-kata apa yang diucapkan, dan mulai rewel bonus bawel ketika digoda mbak Anin. Hahaha. Sedikit-sedikit rewel, sebentar kemudian tertawa nyaring. 

di Tangerang pula, saya merasa punya mas, satu-satunya momen merasa punya mas ya hanya saat-saat di Tangerang. Saat-saat dimana main-main di halaman rumah sama mas Adit, atau main petak umpet di rumah budhe Sus, dan hal-hal lain. Kabar terakhir, setelah lulus dari Teknik Kelautan IPB, mas Adit sering ikut penelitian dosen, jadi asdos, dan merencanakan S2. Semoga Allah menguatkan langkahnya, aamiin🙂

Saya juga sering diajak Ibu saya silaturahim ke tetangga. Salah satu tetangga yang berkesan adalah mengunjungi keluarga Pak Ilham Pratopo. Ya, Pak Ilham sempat tinggal di Jepang, memiliki dua orang anak bernama khas Jepang, Kak Kunio dan Auzora. Sejak usia 3 tahun,mbak Anin dan saya suka ikut Ibu saya berkunjung ke rumah Kak Kunio dan Zora. Biasanya, saya menemani Zora (yang saat itu masih bayi) atau terkadang melihat Kak Kunio bermain sebulan bola-bola sabun :)). Tahun 1997 saya sekeluarga pindah ke Kendal. Lucunya, beberapa waktu lalu saya ngobrolbersama dengan Ibu saya, mengingat masa kecil, kemudian saya random mengetik nama Kak Kunio di facebook, ternyata ada!😀 alhamdulillaah, Kak Kunio sudah lulus dari ITB, dan Zora sekarang sudah kelas 3 SMA di SMA N 3Bandung. :’) 16 tahun bener-bener lost contact, akhirnya dipertemukan lagi, alhamdulillaah, meskipun Kak Kunio ingetnya sama Mbak Anin😀 Wajar sih, kan mereka satu angkatan 

Ada beberapa kenangan-kenangan yang terdokumentasi dengan baik, ada juga beberapa yang belum sempat didokumentasikan. Hihi. Yang pasti, saya telah mendokumentasikan dalam ingatan saya, meskipun tak kan pernah rapi :)) 

image

Watashi wa Valina desu😀

Tangerang, 1996

Selain semakin menyadari waktu begitu cepat berlalu, dengan melihat foto masa kecil menumbuhkan semangat untuk tersenyum lebih lebar dari senyuman diatas. Semangat untuk memberikan yang terbaik di setiap langkah, dan… semakin rajin belajar ilmu kehidupan, entah lewat pengalaman, atau berdiskusi ringan bersama orang-orang terdekat, terutama Ibu dan Bapak. :’D

image

Foto menggenggam batu, banyak yang bilang saya seperti anak laki-laki ._. dari dulu memang suka main pasar-pasaran, atau uleg-uleg-an, makanya sekarang suka nyambel haha. 

image

ini 17 Agustus 1996 =D, nangis gara-gara tersandung batu dan kecapean. :p

<

p>Sejak kecil, saya selalu suka menyimpan dan menyimak kembali album kenangan, entah mulai dari Mamah dan Bapak masih kuliah di Bogor, mbakyu kecil, hingga si bungsu lahir. Iya, selalu ada puing-puing perasaan yang membekas di foto-foto itu. Saking menghayatinya saya kalo melihat foto-foto di album manapun, mulai dari album keluarga, SMP, SMA, dunia perkuliahan dan travelling, teman-teman saya pun memanggil saya Mbahmawa, kini lebih sering dengan Mbahun. Karena, menurut psikologi perkembangan tsaah, orang tua memiliki ketertarikan mengingat-ingat masa lalu, membuka album kenangan dengan perlahan-lahan sambil mengingat setiap kejadiannya, dan juga suka digandeng. Hehe. Iya, saya memang menyukai tiga aktivitas itu. Album kenangan, mengenang apapun yang mampu dikenang, dan digandeng. :))

Kembali ke album kenangan. Selain melihat album, saya juga sering bikin video-video amatir gabung-gabungin foto dan dikasih backsound yang memwakili foto-foto itu. Ada beberapa video yang saya upload ke youtube, lebih banyak jadi koleksi pribadi oleh sebab saya tidak terlalu paham dengan teknologi yang semakin canggih, jadi yaaa videonya super beginner class banget. Hehe.

Dan salah satu hobi terpendam karena tak didukung oleh bakat  ini semakin membuncah ketika saya nonton film Thailand judulnya ‘Crazy Little Thing Called Love’ dimana tokoh utama pria mendokumentasikan tokoh utama wanita mulai awal, perkenalan, dan jadi teman dekat. Intinya, semuanya terekam rapi di bukunya sang tokoh utama pria. Hihi, namanya juga drama, apa sih yang ngga manis? Kemudian, jadi semakin mantep akan mempertahankan hobi ini meskipun tidak didukung oleh bakat, setidaknya mau nabung buat beli kamera, tapi belum mendesak sih, soalnya masih ada kamera-kamera berteberan di kosan (senggol Yanda dan Naili :D)

Ya, Foto. Dokumentasi Kenangan. Pingin! :)) suatu saat nanti, saya pingin foto-fotoin anak-anak saya dalam kondisi yang lebih natural, saat dia nangis, saat belajar jalan, saat belajar sholat, belajar memakai mukenah atau sarung, belajar ngaji, saat dipangku Ayahnya, saat tidur, dan saat-saat yang lain. Jadi, nanti kalau mereka sudah besar, mereka juga senang, bahkan mungkin lebih senang dari saya yang suka melihat foto-foto perkembangan mereka dari masa ke masa =D

Insya Allah, foto atau dokumentasi lainnya (seperti video, rekaman) bisa membantu merapikan kenangan-kenangan yang terjalin dalam ingatan kita🙂

Demikian postingan random pada malam hari ini. Mohon maaf bila memenuhi dashboard teman-teman :’)) setidaknya, tulisan ini akan jadi kenangan di kemudian hari, sekaligus motivasi saya untuk mewujudkan impian saya =D Terimakasih

18 Agustus 2013

melayangkan ingatan ke masa kecil, sekaligus melayangkan impian di masa depan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s