Uncategorized

Sepotong Cerita di Kamar Nomor Tujuh :)

Kamar nomor 7

Pojok

Mereka. Naili. Yanda. Tifa. Juan.

di sebuah kosan dharmawangsa VII, kamar tempat naili, yanda dan saya menghabiskan waktu untuk belajar, berbagi cerita, menonton film, berdiskusi dari hal yang ringan-berat, bercanda, main gitar, main piano, dan masih banyak lagi. Jika Full Team, bisa bersama Tifa dan Juan. 

Sudah lama sekali. Iya, entah mengapa semester lalu yang saya ingat hanya pulang di atas jam 8.30 malam, dalam kondisi lelah, berberes diri atau terkadang terlewatkan karena kondisi badan panas, yang ada hanya selimut kemudian terbangun jam 2. Hampir selalu seperti itu. Hingga tiba sebuah rasa, hei, saya rindu mereka, yanda, naili, tifa, juan. Where have I been? 

Jujur, malam ini, seperti menebus semua rindu yang menggumpal selama satu semester. Meski jarak diantara kami hanya sejengkal, tapi aku merasa sekat-sekat ini terlalu lama, sehingga hari ini kami bersih-bersih sekat. Hehe. Menghabiskan seharian penuh bersama mereka, tanpa embel-embel organisasi, tanpa embel-embel ngerjain tugas kelompok, tampa embel-embel apapun, hanya karena saya Valina, dan mereka, Yanda, Naili, Tifa. Yeah, Juan tidak bisa ikut karena di Makassar. 

Yah, yang bisa saya lakukan hanya menebus rindu pada mereka.

Tanpa mampu membalas segala kebaikan mereka. Tanpa mampu membalas kebaikan Yanda yang terkadang sangat logis dan mengingatkanku pada Mbakyu saya (Mbak avinaninasia), yang sering mengatakan saya harus move up, yang sering sekali membagikan makanan untuk saya ketika saya sakit dan tidak bisa bangkit dari kasur.

Tanpa mampu membalas kebaikan Naili Khadijah, yang hampir selalu mengerti kondisi saya ketika saya lelah oleh pikiran maupun fisik, yang selalu marah ketika saya memaksakan diri dikala sakit, yang hampir selalu membenarkan selimut saya ketika sakit, yang selalu mau berbagi semua benda di kamar 07, yang selalu membagikan ilmu agama, yang selalu mengajarkan dan mengingatkan betapa nikmatnya sholat tepat waktu, yang rela menemani saat ke klinik Unair, mengambil hasil cek darah, ah, dan masih banyak lagi. Bahkan sejak sebelum kami sekamar (alias masih di kosan lama, dia sudah begitu). 

Tanpa mampu membalas segala kebaikan dan kedewasaan Latifa Zahra, adik angkatan Psikologi 2012, tapi terkadang saya melihat sosok kakak dalam diri Tifa. Tifa, yang selalu mengajarkan makna pertemuan dan perpisahan dengan caranya yang bijak. Tifa, yang selalu berkata “kakak-kakak, Tifa bawa makanan lhooo… ayo dihabiskan…”, Tifa yang selalu rendah hati minta diajarin main gitar padahal cara bermain gitarnya sudah seperti Taylor Swift, Tifa yang… hampir selalu memaklumi saya ketika saya bilang tidak bisa. Tentang Tifa yang selalu ‘Gapapa sih Ka Valin, tapi kalau menurut Tifa…’. dan masih banyak lagi :’)

Tanpa mampu membalas kebaikan Juan, sang dokter cinta yang selalu memberikan saran-sarannya yang menghibur dan tentu masuk akal, yang rela sekasur berdua ketika saya sesak nafas dan tidak bisa bergerak di kasurnya.

Tanpa mampu membalas kebaikan mereka semua :’)

Alhamdulillaah, hanya Allaah yang mengatur semua jalan cerita ini hingga bisa berjumpa dan merindu dengan mereka, keluarga kosan :’) 

Subhanallaah, Alhamdulillaah, Wa Lillaahilhamdu :’)

Kepada-Mu Allaah kupanjatkan doa,

agar berkekalan kasih sayang kita,

kepada teman, teruskan perjuangan

pengorbanan dan pengertian,

telah kuungkapkan segala-galanya

itulah tanda kejujuran kita~

teman, hati ini telah menyatu dalam kasih Ilahi

semoga cinta kita kekal abadi~

-Snada, Teman Sejati

<

p> 

13 Februari 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s