Uncategorized

“Jangan suruh adek move on lagi ya, Mbak Anin”

itulah kalimat serius terakhir yang terucap sebelum mbak Anin kembali ke Jakarta untuk menyelsaikan puing-puing sisa studinya menjelang menjadi seorang dokter gigi. Dan, dia mengangguk mantap sambil tersenyum.

Sungguh, kalimat ini bukan bentuk kekalahan atau kepasrahan terhadap ego. Bukan pula bagian dari pemanjaan diri. Kalimat ini adalah salah satu ungkapan, bahwa aku sudah melangkah entah seberapa jauhnya,  dan aku berhasil untuk tidak mundur. Meskipun sesekali aku menoleh ke belakang dan tersenyum, ataupun sesekali aku mengintip ke belakang dan menangis, aku tidak pernah menuruti keinginanku untuk mundur. 

Izinkanlah aku berhenti pada titik ini, pada sebuah titik dimana.. impian untuk menyelesaikan sarjana dengan baik, untuk melanjutkan studi, dan membahagiakan kedua orang tua. Frekuensinya sudah sangat klik ketika disini, takutnya, jika dipindah lagi, maka tidak bisa sekuat ini. hihi, dasar Valina. Iya, ini hanya sebagian rasa di titik ini.

 

11 Maret 2014

5 thoughts on “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s